KISI-KISI JOEL MOKYR UNTUK INOVASI INDONESIA
Trio peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2025: Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt menjelaskan bagaimana pertumbuhan (ekonomi) negara-negara di dunia secara berkelanjutan didorong oleh upaya-upaya inovasi, melalui dua kerangka teori yang saling melengkapi. Joel Mokyr menggunakan pengamatan historis dari Inggris selama ratusan tahun untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang diperlukan bagi pertumbuhan inovasi yang berkelanjutan, yang sepertinya harus kita pelajari dengan sangat serius agar dapat menjadikan inovasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi kita menuju Indonesia Emas 2045. Tulisan ini difokuskan pada pemikiran Joel Mokyr terlebih dahulu, karena pemikiran kedua rekan yang lain hanya akan relevan untuk diseriusi SETELAH resep Joel Mokyr berhasil kita adopsi.
Tulisan ini adalah hasil diskusi penulis dengan AI (kecerdasan buatan) gratis; yang menurut penulis pemikiran sang AI cukup berbobot dan relevan bagi kita. Let’s go!
Di awal era revolusi industri di negeri Inggris, apa yang membuat pengetahuan preskriptif dan pengetahuan proposisional mereka dipertukarkan lebih baik dibanding di negara lain?
Dalam kerangka pemikiran Joel Mokyr, Inggris dinilai sebagai pelopor era Revolusi Industri dengan menciptakan "Pencerahan Industri" (industrial enlightement) – sebagai “jembatan” budaya dan kelembagaan antara mereka yang memahami alam (para cendekiawan) dan mereka yang menerapkannya (para pengrajin). Keunggulan Inggris dalam pertukaran pengetahuan proposisional (teori) dan pengetahuan preskriptif (aplikasi) didorong oleh beberapa faktor yang unik:
- Biaya Akses Rendah: Tidak seperti negara lain di mana pengetahuan dijaga sebagai “rahasia” profesi, Inggris memupuk "Republik Sastra" (Republic of Letters) yang mendorong penyebaran pengetahuan yang bermanfaat. Kuliah umum, ensiklopedia, dan manual teknis membuat informasi pengetahuan jadi murah dan mudah diakses oleh para pengrajin biasa.
- Kaum Elit yang “Gaul": Negeri Inggris memiliki banyak mekanik dan pembuat jam profesional yang sangat terampil dan dapat menafsirkan desain ilmiah yang kompleks dan mengubahnya menjadi sesuatu yang fungsional - kelompok yang oleh Mokyr disebut sebagai mekanik yang kompeten.
- Jaringan Sosial Informal: Pertukaran pengetahuan terjadi di kumpulan-kumpulan non-elit seperti di kedai kopi, perkumpulan Masonik (kelompok eksklusif yang mengkampanyekan kebebasan berpikir), dan perkumpulan ilmiah berbasis lokal. Tempat-tempat ini memungkinkan para ilmuwan dan pengusaha berbaur dan memecahkan hambatan praktis secara langsung.
- Keterbukaan terhadap Inovasi: Sistem politik Inggris, khususnya Parlemen, kurang rentan terhadap kelompok kepentingan "pencari rente" (misalnya para tokoh serikat pekerja “gaya lama”), yang senantiasa berupaya “memblokir” lahirnya teknologi baru demi “melindungi” hak pekerja dan monopoli mereka.
- Lingkaran Umpan Balik Positif: Negeri Inggris adalah pelopor yang berhasil mencapai kemandirian di mana mesin-mesin baru (preskriptif) membantu para ilmuwan mengamati fenomena baru (proposisional), misalnya mesin uap yang mengarah pada pengembangan ilmu termodinamika, dan pada gilirannya mengarah pada penciptaan mesin-mesin uap yang inovatif.
Bagaimana kita di Indonesia dapat mengadopsi prinsip-prinsip di atas, agar kita dapat mengakselerasikan inovasi?
Untuk mengadopsi prinsip-prinsip "Pencerahan Industri" Joel Mokyr di Indonesia, fokus upaya kita harus bergeser dari sekadar "menguasai" teknologi; ke upaya “membangun jembatan pengetahuan" untuk menghubungkan ilmu pengetahuan teoretis dengan kegiatan industri yang praktis.
Berikut beberapa usulan agar Indonesia dapat menerapkan prinsip-prinsip historis ini untuk mendorong inovasi di Indonesia masa kini:
1. Menjembatani Kesenjangan "IPTEK dan Industri / Bisnis"
Tesis utama Mokyr adalah bahwa inovasi dipercepat ketika mereka yang “tahu mengapa?” (ilmuwan) berbicara dengan mereka yang “tahu bagaimana” (pengrajin / industri / bisnis).
- Membangun "Pusat Pertemuan": Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang fisik dan digital seperti Taman Sains & Teknologi (STP) tempat para peneliti akademis dan pemilik UKM dapat berinteraksi setiap hari,
- Program Magang Pendidikan Tinggi - Industri: Mengadopsi model di mana para peneliti menghabiskan waktu di pabrik memastikan bahwa "pengetahuan proposisional" akademis dapat secara langsung memahami apa saja hambatan "preskriptif" di dunia nyata.
Di Inggris abad ke-18, pengetahuan ongkosnya relatif murah untuk mendapatkannya, lagipula relatif terbuka untuk umum. Di Indonesia modern kita, informasi teknis yang berkualitas seringkali terisolasi (dalam silo-silo); baik karena alasan bisnis, karena arogansi intelektual, ataupun karena lemahnya perlindungan atas hak kekayaan intelektual (HKI).
- Prakarsa IPTEK Terbuka: Beralih dari menyimpan hasil penelitian di repositori universitas. Memperkuat kebijakan IPTEK secara nasional untuk mendorong akses seluas-luasnya, demi mendemokratisasi IPTEK yang bermanfaat bagi inovator lokal.
- Intensifikasi Pendidikan Vokasi: Memperluas pendidikan vokasi (SMK) yang berfokus pada "perbaikan kecil-kecil dan terus menerus pada mesin dan peralatan yang mereka gunakan, dan membangun kelompok "mekanik kompeten" serupa dengan mereka yang dulu menggerakkan revolusi industri di Inggris.
3. Memberikan Insentif untuk "Siklus Umpan Balik"
Pertumbuhan Inggris menjadi berkelanjutan karena pendekatan praktis dalam menginspirasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan inovasi baru (misalnya: mesin uap yang mengarah pada pengembangan ilmu termodinamika).
- Insentif Pendanaan Berbasis Hasil Nyata: Untuk menggantikan skema pendanaan R&D dari ukuran prestasi "dipublikasikan di jurnal" ke pendanaan "berbasis pencapaian hasil nyata", misalnya dengan memberikan penghargaan atas penerapan komersial hasil penelitian.
- Super Tax Deductions (Pengurangan Pajak Super): Membuat kebijakan ini (yang sebenarnya telah diundangkan) menjadi efektif, untuk mendorong perusahaan swasta membawa masalah teknis mereka ke pusat-pusat Litbang dan Universitas lokal, ketimbang memilih mengimpor solusi dari luar negeri. Saat ini sering terdengar suara dari kalangan industri, bahwa tawaran pengurangan pajak super pada prakteknya sangat sulit diperoleh.
4. Memupuk Budaya Regulasi yang "Tercerahkan"
Inovasi seringkali (dan tanpa disadari) dihambat oleh para "pencari rente" (rent seekers) yang menginginkan situasi status quo dan anti inovasi.
- Reformasi Kelembagaan: Menyelaraskan dengan standar OECD dapat membantu Indonesia mengurangi hambatan regulasi yang cenderung melindungi monopoli lama, dan menghambat pendatang baru yang inovatif dan disruptif.
- Penegakan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang Lebih Kuat: Menciptakan rezim HKI yang andal memastikan bahwa inventor dan inovator merasa aman berbagi pengetahuan mereka ketimbang merahasiakannya.
Ringkasan Diskusi: Perbandingan Ekosistem Inovasi
Inovasi Inggris Abad 18 Inovasi bagi Indonesia Modern
Konektivitas Kedai Kopi & Komunitas STP & Platform Digital
Sumber Ilmu Ensiklopedia & Ceramah Data Terbuka & Pelatihan Vokasi
Mekanisme Patent Box & Royal Society Kredit IPTEK & Kemitraan BRIN
Q: Jadi, apakah arah kebijakan inovasi kita saat ini sudah tepat? Salam inovasi !
(KS/310126)
