Inovasi GeNose : Sang Pengendus Covid-19
Karya inovasi GeNose dari inovator Universitas Gajahmada, Dr. Kuwat Triyana ini sepertinya bukan "cuma salah satu karya inovasi biasa" yang muncul di era pandemi Covid-19, pada saat para inovator di seluruh dunia mati-matian berpacu dengan waktu untuk menanggulangi keganasannya. Dapat dimengerti seandainya fokus dunia saat ini adalah dalam perlombaan vaksin, yang diharapkan akan dapat setidaknya menghambat penularan virus Covid-19. Namun mesti diingat juga prinsip 3-T yang justru wajib kita lakukan, sembari menunggu giliran vaksinasi; yaitu: Testing, Tracing, dan Treatment.
Dalam soal Testing, pada awalnya hanya ada test Antibodi dengan pengambilan sampel sampel darah, di mana kita bisa tahu apakah pernah terpapar Covid-19 atau tidak. Jika ternyata hasilnya reaktif, berarti kita pernah terpapar sedikitnya 14 hari setelah dimulainya penyakit. Hasil tidak reaktif (negatif) bisa berarti sistem kekebalan belum menghasilkan antibodi karena Anda belum terpapar Covid-19, tapi bisa juga negatif "palsu", yaitu situasi terpapar namun antibodi belum diidentifikasi; baik karena tes dilakukan terlalu cepat atau tubuh belum menghasilkan antibodi. Selanjutnya test PCR (Polymerase Chain Reaction) dikembangkan untuk menanggulangi keterbatasan test Antibodi di atas. Konsekwensinya kita harus menanggung "derita" dalam berbagai hal, selain ongkosnya mahal, dan "pengorbanan disodok" lubang hidung (swab), ditambah pula harus menunggu hasilnya sehari atau lebih. Inovasi berlanjut dengan tersedianya test Antigen, yang prosedurnya mirip dengan PCR. Tes Antigen mendeteksi protein yang ditemukan pada permukaan virus Covid-19, juga melalui "penyodokan" hidung atau mulut seperti pada test PCR. Sekalipun tidak seakurat PCR, test Antigen bisa dibilang "lompatan inovasi" dalam test Covid-19 yang signifikan, karena selain ongkosnya lebih murah, waktu tunggu hasilnya "hanya" sekitar satu jam. Dengan test Antigen ini, dimungkinkan dilakukannya uji Covid-19 yang diintegrasikan dengan kegiatan perjalanan dengan moda transportasi publik (khususnya perjalanan jarak jauh).
GeNose mengembangkan deteksi Covid-19 dari hembusan napas yang dianalisis dengan kecerdasan buatan. Dengan pemakaian kecerdasan buatan, semakin banyak test dilakukan maka akurasi test GeNose akan semakin tinggi. Jika benar bahwa GeNose saat ini telah dapat mendeteksi Covid-19 dalam waktu 10 detik dengan akurasi 99 persen, tambahan lagi dengan biaya per test hanya Rp 5,000 (US$ 35 cents); GeNose bisa menjadikan metoda-metoda test di atas usang (obsolete) seketika! Kombinasi waktu test GeNose yang nyaris "instant" dan biaya yang murah ini, akan membuat test Covid-19 dapat dilakukan setiap saat dan sesering yang kita perlukan. Ini membuat batasan mobilitas kegiatan masyarakat yang sementara ini terkendala dapat dihilangkan. Pada gilirannya, pelaksanaan Tracing dan Treatment pandemi Covid-19 sesuai prinsip 3-T di atas niscaya akan menjadi jauh lebih efektif. Sampai hari ini, dunia telah melakukan sebanyak 1,5 milyar test Covid-19, yang jika dirupiahkan biayanya telah mencapai ratusan trilyun. Bayangkan apabila sejak awal GeNose lah yang dipakai, biaya test di seluruh dunia akan hanya sekitar Rp. 7,5 trilyun (kurang dari 500 juta US$) !
Paul Romer sang penerima Nobel Ekonomi berwacana bahwa bila test Covid-19 dilakukan sekali dalam dua minggu, kita dapat kembali menjalani kehidupan "relatif" normal, tanpa harus menunggu herd immunity 70% dari program vaksinasi Covid-19, yang entah kapan? Sekali lagi, GeNose sangat berpotensi unjuk gigi karena alasan "cost & speed" yang saat ini tak tersaingi oleh metoda test lainnya. Jika akurasi hasil test GeNose di atas telah teruji benar; artinya Indonesia telah menghasilkan karya inovasi yang kelas dunia mengungguli semua inovasi negara maju. Bukan itu saja, GeNose juga bisa mengklaim sebagai inovasi yang "berpotensi" menaklukkan Covid-19, dan membangkitkan kembali ekonomi dunia bahkan sebelum program vaksinasi menunjukkan hasilnya. Tapi GeNose bukan tanpa saingan, simak pesaingnya yang sudah di depan pintu! Klik DISINI
Untuk awalnya, inovasi GeNose setidaknya dapat segera mendongkrak angka Testing di Indonesia yang relatif sangat rendah (bersama berbagai negara "berkembang" lain) di kisaran 36.000 test per sejuta penduduk. Padahal di negara-negara maju angkanya sudah di kisaran 500.000 sampai 1.000.000 test per sejuta. China adalah pelopor tes Covid-19 secara agresif yang dilakukan secara serentak di berbagai kota dalam upaya mengendalikan penyebaran virus ini. Di Wuhan saja, yang penduduknya sekitar 11 juta (dan awal dari pandemi Covid-19), hampir 10 juta penduduknya dites dalam waktu hanya 20 hari ! Ini terbukti telah berhasil menangkal munculnya klaster-klaster penularan baru, sehingga China sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia saat ini praktis sudah "merdeka" dari penjajahan Covid-19.
Salam inovasi!
Kristanto Santosa
___________________________
Business Innovation Center (BIC)
(KS/090221)