AYUK AJUKAN PROPOSAL “118 INOVASI INDONESIA-2026” PAKAI AI
Selaras dengan tema pemilihan “118 Inovasi Indonesia – 2026” yaitu "Inovasi di era Kecerdasan Buatan (AI)", BIC mulai tahun ini ingin mendorong para inovator Indonesia untuk mengembangkan proposal inovasi dengan memanfaatkan AI, untuk menghasilkan proposal inovasi yang lebih berbobot, menarik, dan lebih meyakinkan.
Selain itu, dengan menggunakan pertanyaan yang cerdik dan tepat, kita juga bisa memancing pendapat AI, agar proposal kita sebaik mungkin dapat memenuhi kriteria penilaian proposal yang berlaku di BIC; kriteria yang sama yang telah digunakan oleh para juri penilai sejak tahun 2008. Ke delapan kriteria penilaian tersebut (ada di panduan proposal) adalah:
- Originalitas gagasan/karya inovasi
- Berapa sulit atau mudahnya inovasi ditiru atau direka-ulang
- Daya tarik spontan inovasi yang ditawarkan
- Prospek penciptaan nilai tambah dibandingkan dengan yang telah ada
- Prospek inovasi untuk dikembangkan ke berbagai aplikasi lain
- Prospek inovasi di scale-up ke produk/proses/metoda berskala massal
- Potensi dan kesiapan inovasi untuk komersialisasi
- Seberapa besar resiko kegagalan inovasi
1. Opennes / keterbukaan dan sedikit “kepo”: Tanyakan apa yang benar-benar ingin kita ketahui, sekalipun bisa dianggap pertanyaan kita bodoh,
2. Challenge assumptions / pertanyakan anggapan umum yang berlaku: Inovasi seringkali berada di luar praktek yang berlaku umum, atau yang dianggap benar,
3. Add constraints / sampaikan kendala-kendala atau batasan-batasan yang Anda pikir perlu dipertimbangkan dalam berinovasi: Misalnya kemampuan teknologi, kemampuan investasi, persepsi konsumen awam/umum,
4. Think of scenarios / sampaikan dan diskusikan konteks yang relevan: Berikan bayangan situasi bagaimana inovasi diharapkan memberi nilai tambah bagi penggunanya,
5. Use extreme cases / tanyakan seperti apakah inovasi dapat dikembangkan dalam situasi dan kondisi yang ideal.
Marilah sekarang kita uji bersama, bagaimana AI membantu dalam melengkapi, menguji, mengajukan pilihan-pilihan strategi, bahkan melakukan evaluasi apakah proposal inovasi kita sudah cukup baik dan menarik bagi para juri penilai? Agar Anda dapat dengan mudah memahami “exercise” menggunakan bantuan AI, kita gunakan topik sederhana, sehari-hari, yang pasti kita hadapi: sampah rumah tangga. Untuk memulainya (setelah Anda mengikuti exercise di bawah ini), lakukan registrasi ke Pemilihan “100+ Inovasi Indonesia” sebagai inovator yang akan mengajukan proposal inovasi yang BARU. Kemudian bukalah salah satu (atau lebih) aplikasi AI seperti Chat-GPT, Open-AI, Google AI / Gemini atau lainnya.
Perlu dicatat, bahwa peran AI dalam hal ini adalah membantu Anda mengembangkan proposal inovasi Anda, agar lebih cepat, lengkap dengan data pendukung yang relevan, bahkan memperluas wawasan dan kreativitas Anda, khususnya yang terkait dengan proposal inovasi yang Anda buat. Namun demikian, pemilihan proposisi inovasi, strategi inovasi, maupun klaim keunggulan inovasi harus Anda tetapkan. AI tidak menggantikan permasalahan dunia nyata sebagaimana yang Anda lihat / alami.
Exercise / Contoh:
Inovasi untuk pengolahan sampah rumah tangga
Tanya AI-01: Apakah inovasi sistem pengolahan sampah rumah tangga masih relevan di Indonesia?
Jawab AI: Inovasi sistem pengolahan sampah rumah tangga sangat relevan dan bahkan menjadi kebutuhan mendesak di tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh krisis sampah nasional yang terus meningkat, di mana sekitar 65% sampah belum terkelola dengan baik. Menurut BRIN, saat ini ada sekitar 11,3 Juta Ton sampah di Indonesia yang belum terkelola dengan baik
Tanya AI-02: Apakah cara-cara pengelolaan sampah yang baik yang masih belum umum dipraktekkan? Lalu apa masalahnya?
Ada berbagai inovasi pengolahan sampah yang belum banyak dipraktekkan di Indonesia, misalnya:
1. Metode Ember Tumpuk (Black Soldier Fly/Maggot)
Metode ini menggunakan larva maggot untuk mengurai sampah organik dapur dengan sangat cepat.
- Keunggulan: Mengurangi volume sampah organik hingga 80% dalam waktu singkat dan menghasilkan pupuk cair serta protein hewani (maggot) untuk pakan ternak.
- Masalah/Hambatan: Banyak orang merasa jijik dengan keberadaan larva, serta kurangnya pengetahuan teknis mengenai cara menjaga agar ember tidak menimbulkan bau menyengat atau mengundang lalat rumah biasa.
Memasukkan sampah organik langsung ke dalam lubang di tanah (biopori) atau wadah komposter khusus.
- Keunggulan: Meningkatkan daya serap air tanah dan menghasilkan kompos di tempat tanpa perlu diangkut.
- Masalah/Hambatan: Keterbatasan lahan, terutama di area perkotaan yang padat atau rumah yang seluruh halamannya sudah disemen. Selain itu, dibutuhkan kesabaran karena proses dekomposisi memakan waktu.
Memisahkan limbah seperti baterai bekas, lampu neon, kemasan deterjen keras, dan obat kadaluwarsa dari sampah umum.
- Keunggulan: Mencegah racun kimia berbahaya merembes ke air tanah atau meledak saat diproses di TPA.
- Masalah/Hambatan: Minimnya fasilitas drop-off point khusus untuk sampah B3 di lingkungan pemukiman, sehingga kemudian mencampur sampah ini ke tempat sampah umum karena bingung harus membuangnya ke mana?
Menggunakan platform digital untuk menyalurkan sampah anorganik yang sudah terpilah langsung ke industri daur ulang melalui kurir khusus.
- Keunggulan: Memastikan sampah plastik dan kertas benar-benar didaur ulang (ekonomi sirkular) dan tidak berakhir di laut atau sungai.
- Masalah/Hambatan: Aksesibilitas layanan yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia (biasanya baru ada di kota besar) serta rendahnya nilai ekonomis sampah tertentu yang membuat warga malas memilah.
Ringkasan: Masalah Utama dalam Pengelolaan Sampah Rumah-Tangga:
- Rendahnya Kesadaran: Banyak yang masih menganggap sampah adalah tanggung jawab petugas kebersihan, bukan penghasil sampah.
- Kurangnya Fasilitas Pendukung: Tidak adanya tempat sampah terpilah yang memadai di tingkat RT/RW.
- Kelemahan Koordinasi: Seringkali sampah yang sudah dipilah oleh warga dicampur kembali oleh petugas saat pengangkutan.
Jawab AI: Tema inovasi yang paling menarik bagi masyarakat umum saat ini adalah "Sampah Jadi Cuan: Ubah Sampah Organik Dapur Menjadi Emas Cair (Pupuk Organik & Pakan Ternak)." Inovasi ini bisa memikat karena menyentuh aspek keuntungan finansial dan solusi praktis secara langsung. Mengapa tema ini bisa menarik?
- Nilai Ekonomis: Masyarakat diajarkan cara memproduksi pupuk sendiri yang bernilai jual atau menghemat pengeluaran untuk tanaman hias di rumah.
- Efek Instan: Penggunaan metode maggot (BSF) atau komposter drum menghasilkan produk nyata dalam waktu singkat, bukan sekadar teori.
- Gaya Hidup Berkebun: Tren urban farming atau menanam di lahan sempit sedang populer, sehingga kebutuhan akan pupuk tanaman sangat tinggi.
- Solusi Masalah Bau: Metode ini fokus pada cara mengolah sisa makanan agar tidak membusuk dan berbau di tempat sampah rumah tangga.
Tanya AI-04: Betul, persepsi bahwa sampah itu bau, jorok, mengandung penyakit, sehingga menyebabkan orang tak tertarik bicara soal pengolahan sampah. Bagaimana cara menanggulangi persepsi ini?
Jawab AI: Untuk mengubah persepsi "bau dan jorok" menjadi sesuatu yang menarik, kita harus mengubah narasi dan visualisasinya. Orang tidak akan mau bicara sampah jika yang dibayangkan adalah tumpukan limbah, tapi mereka akan mendekat jika yang diperlihatkan adalah hasil akhir yang bersih. Berikut adalah strategi untuk menanggulangi hambatan psikologis tersebut:
1. Fokus pada "Produk Jadi", Bukan "Proses Busuk"
Jangan memajang foto sampah yang menumpuk saat sosialisasi. Sebaliknya, tunjukkan hasil akhirnya terlebih dahulu.
- Contoh: Pamerkan botol-botol Eco-Enzyme yang wangi segar (seperti fermentasi buah) atau tanaman yang tumbuh subur karena pupuk organik buatan sendiri.
- Pesan: "Ini bukan tentang mengolah limbah, tapi tentang memproduksi nutrisi tanaman."
Gunakan alat pengolahan yang desainnya modern, bersih, dan kedap udara.
- Inovasi: Perkenalkan Komposter Takakura atau keranjang khusus yang rapi dan bisa diletakkan di pojok teras tanpa terlihat seperti tempat sampah.
- Pesan: Pengolahan sampah bisa dilakukan secara higienis bahkan di dalam apartemen atau rumah minimalis.
Jelaskan bahwa sampah hanya berbau jika terjadi proses pembusukan yang salah (anaerob).
- Teknik: Ajarkan penggunaan bioaktivator (cairan EM4 atau molase) yang secara instan menghilangkan bau tidak sedap saat pengomposan dimulai.
- Pesan: "Jika berbau, berarti ada yang salah. Pengolahan yang benar justru berbau seperti aroma tanah hutan."
Ganti istilah yang terdengar "kotor" dengan yang lebih gaya atau bernada positif.
- Ubah: "Pelatihan Pengolahan Sampah" menjadi "Workshop Urban Gold" atau "Kitchen Magic: Sisa Dapur Jadi Subur".
- Pesan: Mengemas kegiatan sebagai gaya hidup (lifestyle) kelas menengah yang peduli lingkungan, bukan sekadar urusan petugas kebersihan.
Tunjukkan bahwa proses ini aman bagi kesehatan dengan penggunaan alat pelindung yang sederhana namun profesional.
- Aksi: Gunakan sarung tangan modis atau masker kain saat praktik untuk menunjukkan bahwa kita tetap bisa menjaga kebersihan diri sambil mengolah limbah.
Salam inovasi!
(ks/280226)
Komentar
Belum ada komentar
