MENYONGSONG INOVASI DI ERA KECERDASAN BUATAN
Di tahun-tahun terakhir ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), telah memicu berbagai revolusi dan disrupsi nyaris di semua segi kehidupan kita; tak terkecuali prospek terjadinya revolusi, dan juga disrupsi dalam kita berinovasi.
Kita tentunya telah terbiasa menggunakan Google AI untuk mencari apa saja. Kita telah melupakan peta kota Jakarta untuk mencari alamat; karena dengan Google Map, kita dimanjakan dengan layanannya yang super cepat, akurat, dilengkapi dengan informasi pilihan rute, estimasi waktu, dan seterusnya. Demikian juga berbagai inovasi berbasis AI, yang kini tak lagi kita anggap sebagai inovasi, karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari; seperti online-shopping, online-game, online-banking, dan online-online lainnya. Saat ini kita sedang (dan harus) memasuki era berinovasi dengan memanfaatkan AI, yang tentunya membawa berbagai peluang maupun ancaman.
Urgensi membangun ekosistem inovasi nasional, sebagai wahana bersinergi (berinteraksi, berkolaborasi, dan berkomunikasi) di antara Peneliti/Akademisi, Pengusaha/Industri, dan Pemerintah (A-B-G: Academics-Business-Government) sudah terlalu sering dibahas dalam berbagai forum inovasi, termasuk di tulisan Blog BIC kita. Namun, dengan AI kita berpeluang untuk merevolusikan cara A-B-G bersinergi, berinteraksi, berkolaborasi, dalam ekosistem inovasi virtual dan global dengan kecepatan dan efisiensi tinggi; karena tidak lagi harus berurusan dengan penyelarasan pola pikir, lokasi fisik, birokrasi, ataupun basa-basi antar organisasi maupun antar profesi, yang saat ini menjadi kendala serius bagi kita dalam upaya berinovasi.
Dalam mengarungi proses berinovasi dari awal sampai akhir; mulai dari pengembangan wawasan (insights), membangun gagasan inovasi (ideation), membangun konteks dengan dunia nyata, dan selanjutnya membangun proposisi inovasi, pengembangan inovasi, sampai komersialisasinya; inovator kini dapat memanfaatkan AI di sepanjang proses inovasi sebagai mitra kolaborasi mereka, baik dalam peran sebagai mitra A, atau mitra B. atau bahkan dalam peran sebagai G, yang bercakupan global dan tidak terbatas cuma pada mitra yang kita ketahui / kenal. Dengan tersedianya berbagai aplikasi AI seperti Chat-GPT, Open-AI, Google AI / Gemini dan sebagainya; kita bisa memanfaatkan semua aplikasi di atas secara simultan. Bahkan mereka akan "berebut" menawarkan diri dengan berbagai “keajaiban”, yang dapat kita adu dan bandingkan tanpa bayaran, tanpa sakit hati, atau memboikot inovasi kita.
Sebaliknya, jika kita mengabaikan tawaran AI untuk membantu kita dalam berinovasi; kehadirannya akan bisa menjadi ancaman yang sangat serius bagi para inovator Indonesia; karena para inovator pada umumnya di seluruh dunia telah memanfaatkan AI, sehingga kinerja mereka dalam berinovasi menjadi jauh lebih cepat, lebih efisien, dan tentunya dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.
MENYONGSONG “118 INOVASI INDONESIA-2026” DENGAN KECERDASAN BUATAN
BIC telah menetapkan pemilihan “118 Inovasi Indonesia – 2026” dengan tema "Inovasi di Era Kecerdasan Buatan", bukanlah untuk mengajak para inovator Indonesia mengajukan proposal inovasi dengan topik kecerdasan buatan atau AI saja; akan tetapi ingin mengajak para inovator untuk mencoba memanfaatkan AI (bagi yang belum mencoba), agar proposal inovasi mereka dilengkapi dengan proposisi inovasi yang lebih tajam, lebih menarik dan lebih meyakinkan.
Tulisan ini dilengkapi dengan tautan untuk melihat contoh-contoh (CASES) sederhana, tentang bagaimana "rasa"nya mengembangkan proposal inovasi dengan dukungan serta berkolaborasi dengan AI. Cases terpaksa ditulis terpisah karena pembatasa kuota jumlah huruf maksimum di setiap tulisan di Blog BIC. Agar contoh menjadi lebih relevan bagi kita, ke empat topik CASE yang diangkat di bawah ini terkait dengan prioritas nasional, yaitu HILIRISASI INOVASI (CASE-01), dan CASES untuk ke tiga prioritas Presiden dalam rangka mencapai swasembada di bidang-bidang strategis, yang merupakan fondasi bagi pembangunan nasional, yaitu: PANGAN (CASE-02), AIR BERSIH (CASE-03) dan ENERGI TERBARUKAN (CASE-04). Namun perlu dicatat, sebagaimana hakekat setiap upaya inovasi, penciptaan nilai tambah tidak perlu dibatasi oleh bidang ataupun sektor. Inovasi dalam mobil listrik misalnya, berpotensi menciptakan berbagai nilai tambah bagi penggunanya dalam hal kenyamanan transportasi, dalam konservasi energi, dalam pencegahan polusi, bahkan secara sosial juga menciptakan nilai "gengsi".
Silakan KLIK di sini untuk melihat berbagai CASE di atas, tentang bagaimana kita bisa bermitra / berdialog / berdebat dengan AI untuk menghasilkan proposal inovasi yang lebih hebat dan berwawasan global. Selamat mencoba.
Salam inovasi !ndonesia! (ks/22/02/26)
