RISET HARUS BERDAMPAK, BUKAN SEKADAR PUBLIKASI
Tulisan di harian Kompas 9 September 2026 dari hasil diskusi Kompas tentang “Hilirisasi” sungguh layak dicermati, karena dengan lugas menekankan perlunya pergeseran paradigma riset nasional; dari sekadar bersifat administratif dan publikasi ilmiah (output-based), menjadi berfokus pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat (outcome-based). Dikatakan bahwa hilirisasi mensyaratkan terjadinya kolaborasi lintas sektor demi membangun ekosistem sebagai jembatan menuju inovasi yang bernilai ekonomi.
Diskusi terbatas yang diadakan oleh Kemendiktisaintek bersama Harian Kompas ini secara spesifik memetakan / mengulas jalan keluar untuk mengatasi “kebuntuan” sistem riset nasional yang selama ini terisolasi di ruang akademik. Solusi untuk pain points yang disimpulkan dari diskusi ini meliputi:
1. Menyatukan Ekosistem yang Terfragmentasi (De-Siloisasi)
- Masalah: Selama ini riset di Indonesia berjalan sendiri-sendiri, terkotak-kotak, dan kekurangan interaksi serta partisipasi aktif dari masyarakat maupun industri.
- Jalan Keluar: Membangun integrasi ekosistem pemanfaatan sains dan teknologi secara menyeluruh agar terjadi kolaborasi multipihak sejak tahap awal penelitian, bukan baru ditawarkan ke industri setelah risetnya selesai.
- Masalah: Mayoritas dosen masih meneliti hanya untuk memenuhi kewajiban administratif Tri Dharma Perguruan Tinggi (mencapai 66% berdasarkan survei) demi kenaikan jabatan.
- Jalan Keluar: Mengubah sistem penilaian dan insentif. Keberhasilan riset tidak lagi diukur secara output-based (jumlah halaman laporan atau publikasi kertas) tetapi wajib diukur secara outcome-based (manfaat nyata di lapangan dan dampak sosial-ekonominya).
- Masalah: Kesadaran peneliti untuk menyelesaikan masalah publik belum terwadahi dengan optimal oleh sistem regulasi lama.
- Jalan Keluar: Mengakomodasi potensi besar dari pergeseran motivasi para dosen. Berdasarkan data internal Kemendiktisaintek, terdapat 48% peneliti yang kini memiliki motivasi kuat untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat. Angka ini dijadikan modal utama pemerintah untuk mengarahkan pendanaan ke sektor-sektor yang berorientasi solusi praktis.
4. Pengukuran Dampak Lewat Lima Kuadran Terpadu
- Masalah: Tidak adanya standar baku yang adil untuk menilai seberapa bermanfaat sebuah riset selain dari nilai komersial murni.
- Jalan Keluar: Mengadopsi evaluasi berbasis Lima Kuadran Dampak, yaitu dampak Ilmiah, Pendidikan, Sosial (menggunakan metode Social Return on Investment), Ekonomi, dan Lingkungan. Ini memberikan kepastian hukum dan panduan bagi peneliti agar inovasi mereka memiliki peta keseimbangan yang jelas antara kebutuhan pasar dan kelestarian alam.
