• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

PROGRAM PENGEMBANGAN KLASTER INOVASI DAERAH - 2018



Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (RistekDikti) kembali menggelar program pengembangan klaster inovasi daerah untuk tahun yang kedua, setelah menetapkan dan mendukung beberapa provinsi di Indonesia sebagai klaster unggulan daerah pada tahun 2017 yang lalu. Target pada tahun 2018 ini adalah untuk dapat memilih 10 proposal klaster inovasi daerah untuk mendapat dukungan dan pembinaan dari RistekDikti. Salah satu skema atau syarat pengajuan proposal yang ditekankan untuk tahun ini, adalah bukti telah disepakatinya kolaborasi "quadruple helix". Artinya, proposal yang diajukan harus menunjukkan adanya (rencana) sinergi antar komponen pemerintah daerah, akademisi, dunia industri / bisnis, serta keterlibatan masyarakat secara "inklusif" dalam proposal pengembangan klaster inovasi daerah.

Seusai arahan dari Menteri RistekDikti, Program Klaster Inovasi Daerah Provinsi Aceh (2017) yang dinilai merupakan program Klaster Inovasi Daerah yang berprestasi, mendapat kehormatan untuk menyampaikan paparannya. Paparan yang disampaikan oleh Dr. Syaifullah Muhammad, Direktur Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, mendapat sambutan yang meriah dari para peserta. Peserta seminar sepertinya sangat terinspirasi dan termotivasi dari kisah dan pengalaman Klaster Inovasi Daerah berbasis Nilam di Aceh. 

Kristanto, pimpinan BIC, dalam paparannya sebagai narasumber menekankan agar setiap peserta yang ingin mengajukan proposal program Klaster Inovasi Daerah 2018 mempelajari dengan seksama semua materi yang telah disampaikan oleh para narasumber, sehingga dapat menghasilkan proposal sebagaimana diharapkan oleh RistekDikti.

Namun untuk menjadikannya sebagai prakarsa inovasi daerah yang sukses diperlukan lebih banyak "modal non-teknis", mengingat inovasi adalah prakarsa untuk melakukan perubahan "besar" yang selalu pada awalnya akan menghadapi hambatan dan penolakan, baik akibat ketidak-tahuan, ketidak-nyamanan, atau karena ada pihak-pihak yang memang telah mapan dan diuntungkan oleh kondisi "status-quo".

Salah satu faktor "non-teknis" yang mesti diciptakan adalah kepemimpinan dalam berinovasi (innovation leadership) di daerah, yang benar-benar memiliki semangat (passion), dan tentunya stamina jangka panjang, agar dapat terus-menerus mendorong terjadinya inovasi yang memang diinginkan oleh masyarakat di daerahnya.

(KS 26/03/18)

 


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Salam inovasi Citra Manus: “Learn from the Future”

14 Juni 2022 yang lalu merupakan  “milestone” baru dan kabar gembira bagi dunia ino

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1443H

Saat ini kita telah sampai di penghujung ramadhan dan hari kemenangan akan segera tiba Semoga Allah

THE WINDOWS OF OPPORTUNITY "114 IN0VASI INDONESIA-2022"

Kalau di tahun 2021 lalu, "mood" yang berlaku adalah berharap agar pandemi segera usa

MAKE INNOVATION REAL @ INNOVA FLANDERS - 2022

Dunia masa kini terus-menerus menghadapi perubahan yang sangat dinamis, bahkan disruptive; misalnya

Tantangan Inovasi Hijau di Bukit Asam 

Pada 22 Maret 2022, PT Bukit Asam Tbk. meluncurkan gelar Kompetisi Bukit Asam Innovation Awards 2022