• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Teknologi Radiotracer untuk Panasbumi dan EOR


Abstrak

Radiotracer adalah zat radioaktif digunakan sebagai tracing (perunut) untuk mengetahui interkoneksi antara sumur reinjeksi dan sumur produksi pada lapangan panasbumi dan minyak bumi (Enchanced Oil Recovery/EOR). Dalam Panasbumi teknik radiotracer juga di gunakan untuk mengetahui pengaruh air reinjeksi terhadap performance reservoir dalam rangka steam field management. Sedangkan dalam EOR juga digunakan untuk menentukan saturated Oil resedual (Sor)

Deskripsi

Teknologi radiotracer sangat dibutuhkan dalam rangka pengembangan/ eksploitasi lapangan Panasbumi dan minyakbumi dalam proyek EOR. Teknik radiotracer mempunyai keunggulan dibandingkan dengan teknik radio tracer konvensional seperti zat warna dan kimia dalam hal jumlah tracer yang diinjeksikan, sensitivitas, sifat absorpssi oleh batuan reservoir dan tahan terhadap suhu. Radiotracer banyak sekali jenisnya dan dapat dipilih sesuai kebutuhan terutama tentang waktu paruh radiasi, bentuk senyawa (labeling) dan jenis radiasinya (sinar beta atau gamma). Mengenai keamanan terhadap radiasi, radiotracer tracer yang akan digunakan dapat di disain dengan aman, sebagai contoh Isotop tritium (H-3) mempunyai radiasi beta dan waktu paruh 12,3 tahun dapat berupa senyawa air (HTO) dan dilabel dalam senyawa alkohol sehngga dapat digunakan untuk tracer mnyak dan gas. Isotop tritium mempunyai tingkat maximum permissibility concentration (MPC) sekitar 10.000 TU (tritium unit) sedangkan deteksi limit alat ukur sektar 1 TU, agar isotop tsb aman di gunakan untuk umum maka didisain jumlah aktivitas tritium yang di injeksikan sebagai tracer sedemikian rupa agar isotop tritium yang muncul di sumur produksi (monitoring well) lebih kecil /jauh dari dari MPC atau sekitar 200 TU saja.

\

Dewasa ini teknologi radiotracer sudah di gunakan pada berbagai lapangan Panasbumi Kamojang-JawaBarat (6 sumur reinjeksi/tritium), Lahendong-Sulut (1 sumur reinjeksi/tritium), Dieng-Jateng (2 sumur reinjeksi/tritium dan I-125) dan Sibayak-Sumut (1 sumur reinjeksi/tritium dan I-125). sedangkan pada lapangan minyak bumi telah digunakan pada lapangan EOR Lirik,Asamerah dan Prabumulih.

\

Teknik radiotracer mempunyai keuntungan dari teknik konvensional dalam hal dapat di gunakan secara kualitativ dan kuantitative, yaitu disamping mendapatkan informasi tentang interkonenksi antar sumur juga dapat menghitung recovery jumlah air reinjeksi yang masuk kedalam sumur produksi serta pengaruhnya terhadap tingkat produksi dan efek air reeinjeksi terhadap pendinginan reservoir panasbumi. Keuntungan  dalam lapangan EOR dapat menghitung nilai saturated oil resedual (Sor) yaitu nilai yang harus diketahui dalam pengembangan EOR untuk perhitungan ekonomis.

\

Keunikan teknologi radiotracer terutama dalam hal pemilihan jenis zat radioaktif untuk disesuaikan dengan kondisi lapangan panasbumi atau minyakbumi. Pada lapangan yang mempunyai jarak antara sumur reinjeksi dan sumur produksi (monitoring) sekitar 150 - 350 m dipilih digunakan zat radiotracer yang mepunyai waktu paruh pendek misalnya radiotacer I-125 dengan waktu paruh 60 hari, sedangkan untuk yang jaraknya lebih dari 500 m bahkan hingga 5 km dapat dipilih tracer tritium yang mempunyai waktu paruh 12,3 tahun. Contoh aplikasi pada lapangan Lahendong-Sulawesi Utara empunyai jarak antara sumur reinjeksi dan sumur produksi sekitar 4,5 km dan tracer tritium berhasil , dengan waktu terbosan (time breakthrough) 6 bulan, seangkan percobaan radiotracer di lapangan Sibayak-Sumatra Utara yang mempunyai jarak antar suur sektar 150 -300 m, menggunakan tracer I-125 berhasil dengan time breakthrough tracer sekitar 10 hari. Kedua percobaan tracer pada kedua lapangan tersebut telah didisain antara ketepatan jenis tracer dan sifat lapngan

\

Teknologi radiotracer masih terus dikembangkan terutama kearah pemilihan dan pengunaan jenis tacer baru yang akan dimanfaatkan untuk injeksi multi tracer dan penentuan Sor. Jenis tracer yang akan dikembangkan berupa pemanfaatan label radiotracer dalam berbagai senyawa alkohol, radiotracer dalam bentuk senyawa KSC-14N, K3Co(CN)6 dll.

\

Penggunaan teknologi radiotracer dimasa depan sangat prospektif sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan panasbumi menjadi 4000 MW dan mengaktivkan pencarian lapangan minyakbumi untuk proyek EOR

\

 


Keunggulan Teknologi

Teknologi radiotracer telah berhasil dan sukses digunakan pada lapangan panasbumi Kamojang-Jawa Barat dalam periode pengembangan sejak tahun 1992. Pada lapangan Kamojang telah di injeksikan radiotracer tritium (HTO) pada 6 buah sumur reinjeksi untuk melihat interkoneksinya (networking) terhadap 80 sumur produksi dalam rangka memasukkan air kedalam reservoir guna mengatasi penurunan tingkat produksi dan pengembangan lapangan dari 140 Mw menjadi 200 Mw. Kini Manajemen Kamojang dapat menggunakan ke enam sumur reinjeksi dengan arah interkoneksi ke sumur produksi tertentu dalam strategi manajemen lapangan uap dan telah berhasil meningkatkan lapanan Kamojang menjadi 200 Mw. Untuk lapangan minyak telah dimanfaatkan teknik tracer pada lapangan Sopa-Sumsel dalam rangka meningkatkan produksi minyak pada tahun 2005 pada tiga sumur reinjeksi menggunakan radiotracer Tritium dan Co-60.

\

Pada lapangan panasbumi penggunaan teknologi radiotracer telah dibandingkan dengan tracer konvensional seperti freon dan florosence (zat warna). Tracer freon dapat digunakan pada lapangan panasbumi tapi hanya sebatas kualitative sedangkan untuk zat warna florosence tidak berhasil karena tak tahan terhadap pengaruh suhu yang tinggi.

\

Keunggulan teknik radiotracer adalah dalam hal jumlah zat yang diinjeksi hanya beberapa gram atau ml saja sedangkan tracer konvensional hingga ratusan Kg disamping lebih sensitif dan harga bersaing. Masalah tentang keamanan radiasi memang masih menjadi pobia kebanyakkan orang masih perlu sosialisasi lebih intensiv walaupun dalam pelaksanaan teknologi ini dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan tingkat radiasi hingga dibawah batas yang dizinkan (maximum permissibility concentration)


Potensi Aplikasi

Sejalan dengan program pemerintah untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan dalam bidang panasbumi yang dalam tahun 2014 menjadi 4000 Mw dari kira2 1000 Mw pada tahun 2010 dan mendorong aktiv untuk pengembangan proyek EOR. Tentu saja teknologi radiotracer menjadi sangat prospek dimasa mendatang karena memang teknologi ini sangat dibutuhkan dan harus dilakukan dalam pengembangan dan pengelolaan lapangan panasbumi agar menjadi renewable resources.

\

Teknologi radiotracer tidak harus dilakukan oleh Batan saja tetapi dapat di miliki atau dilakukan oleh Swasta yang bergerak dalam sevices dan konsultan keteknikan bidang energi, karena teknologi ini tidak rumit sangat mudah dilakukan, hal yang sama seperti teknologi NDT yang telah di lakukan oleh banyak perusahaan swasta, hanya saja diperlukan tenaga sarjana nuklir dan perizinan dalam hal penggunaan zat radioaktif oleh Bapeten.