• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

OCEANTAG: Rancang Bangun Electronic Fish Tag Berbasis Mikrokontroler dengan Sensor Radio Frequency Identification (Rfid) untuk Identifikasi Populasi Organisme Laut


Abstrak

Teknologi label RFID merupakan salah satu teknologi murah yang dapat diaplikasikan untuk pelabelan hewan lautHasil percobaan menunjukan bahwa Electronic Fish Tag dapat melakukan pemidaian RFID tag dengan baik walaupun terdapat penghalang Styrofoam. Perulangan pemindaian dilakukan 10 kali untuk melihat pesentase keberhasilan pemindaian. Tingkat keberhasilannya cukup baik, yakni 100%. Media penyimpanan yang digunakan adalan micro SD Card V-Gen dengan kapasitas 2GB dan format sistem Fat 32.

Deskripsi

Penandaan hewan laut atau pelabelan (tagging) dengan sensor elektronik semakin banyak dilakukan olah para ilmuwan di seluruh dunia untuk melacak pergerakan hewan tersebut. Label elektronik yang sudah umum digunakan adalah archival tags, pop-up satelite tags, satelite positioning tags, GSM tags, acoustic tags, dan Radio Frequency Identification (RFID) tags (Cencus of Marine Life 2013). Data yang dihasilkan oleh label elektronik ini berupa kapan, di mana, dan bagaimana ruaya hewan laut serta bagaimana hubungannya antara ruaya hewan laut dengan lingkungannya. Kemampuan untuk dapat memprediksikan pergerakan hewan laut berdasarkan insting hewan tersebut memiliki peran penting dalam upaya konservasi laut dan pengelolaan perikanan tangkap.

Kemajuan teknologi dibidang elektronik seperti mikrokontroler dan Radio Frequency Identification (RFID) banyak digunakan oleh para peneliti zaman sekarang untuk membantu tugasnya dalam identifikasi. Teknologi label RFID merupakan salah satu teknologi murah yang dapat diaplikasikan untuk pelabelan hewan laut. Umumnya teknologi pelabelan RFID ini sudah dilakukan untuk beberapa ikan hias. Hal ini dilakukan karena ikan sulit sekali dikenali karena bentuk secara fisiknya mirip dengan ikan lainnya walaupun dipelihara dalam suatu wahana/akuarium. Teknologi RFID ini mampu digunakan untuk membantu dalam hal identifikasi ikan secara teliti dan efisien.

Radio Frequency Identification (RFID) adalah sistem identifikasi tanpa kabel (wireless) menggunakan gelombang radio. Prinsip kerja RFID didasarkan pada prinsip kerja gelombang elektromagnetik. Perangkat RFID dapat berkomunikasi jika bekerja pada frekuensi yang sama. Karaktersistik frekuensi didasarkan pada kondisi lapangan yang sangat bervariasi dalam penerapannya. Hingga saat ini terdapat 4 macam frekuensi RFID yang dipakai yakni low frequency (120-150kHz), high frequency (13.56MHz), ultra high frequency (868-956MHz), dan microwave (>2.45GHz).

Ukuran pemindai RFID yang dirancang portable umumnya berukuran cukup kecil serta dilengkapi oleh mikroprosesor, RFID reader, dan memori untuk media penyimpanan data. Hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan Electronics Fish Tag adalah ukuran antena, baterai, dan kekedapan terhadap air (Biomark Inc, 2014). Pengembangan tentang RFID ini sebenarnya sudah banyak dilakukan, namun masih tergolong sedikit yang diimplementasikan terhadap perikanan.

Perancangan instrumen yang mudah dioperasikan perlu diterapkan dalam penelitian ini. Produk yang dihasilkan pun harus cukup handal dan mampu mengurangi ketergantungan dan menciptakan kemandirian teknologi.


Keunggulan Teknologi

Teknologi Oceantag mudah untuk diaplikasikan sehingga memudahkan untuk penggunaanya .Teknologi ini mudah untuk di adaptasi dan terbukti akurat sehingga  teknologi Radio Frequency Identification (RFID) akan membantu proses identifikasi perikanan yang berkelanjutan


Potensi Aplikasi

Teknologi Oceantag sangat berpotensi diaplikasikan sebagai teknologi aplikatif, hal ini didukung juga oleh  teknologi yang  mudah di gunakan sehingga dapat dikembangkan dan digunakan. Teknologi sederhana yang digunakan dalam pemrosesan identifkasi  sangat berpotensi untuk diadopsi oleh pihak ilmuwan , industri maupun akademisi

Oceantag sudah diujicobakan di Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih Papua dengan melakukan tagging pada beberapa individu hiu paus (Rhyncodon typus) pada tahun 2014. Proses kegiatan tersebut dapat dilihat pada dokumentasi: Youtube(https://www.youtube.com/watch?v=auUvD1nfBCE&index=4&list=PLQRSW25pT4Tk7GKuZLmaLRsuYgBtobW9n&t=2s).

Oceantag juga sudah diujicobakan pada organisme penyu oleh BPSPL Padang pada tahun 2015, dokumentasi kegiatan tersebut dapat dilihat pada Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=UqCOVYyB3j0&index=5&list=PLQRSW25pT4Tk7GKuZLmaLRsuYgBtobW9n&t=18s).

Kerjasama berlanjut untuk aplikasi Oceantag di Kalimantan oleh BPSPL Pontianak untuk melakukan tagging pada hiu paus yang ada di Talisayan pada tahun 2015, dokumentasi Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=Dob1-DfXjPM&index=21&list=PLQRSW25pT4Tk7GKuZLmaLRsuYgBtobW9n).

Oceantag juga sudah diperkenal pada saat Bimbingan Teknis untuk pengelolaan habitat penyu di kawasan taman nasional perairan Laut Sawu (https://www.youtube.com/watch?v=OW4c_CapG9U&index=18&list=PLQRSW25pT4Tk7GKuZLmaLRsuYgBtobW9n&t=3s).