• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Omega 3 Dari Laut Untuk Generasi Emas


Abstrak

Omega 3 dapat diperoleh dari minyak ikan Sardin hasil samping penepungan ikan dengan teknologi sederhana, mudah dan murah. Pemurnian dengan proses netralisasi menggunakan kaustik soda dan bleaching menggunakan MFP 3%, suhu adsorbsi 50 °C. Minyak ikan Sardin murni memiliki kandungan EPA 12,74 dan DHA 10,28. Minyak ikan Sardin kaya Sardin kaya omega 3 berperan terhadap kecerdasan dan kesehatan. Kata kunci : Minyak ikan Sardin murni, Omega 3, NaOH,MFP.

Deskripsi

EPA dan DHA memiliki pengaruh positif terhadap kecerdasan dan kesehatan manusia. Sehingga pemanfaatan omega 3 dari alam dapat membantu pemerintah dalam mewujudkan generasi emas yang cerdas dan sehat serta generasi yang produktif. Hal ini dikarenakan asam lemak tersebut  dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, perkembangan otak dan retina, peningkatan kekebalan dan pencegahan resiko penyakit degeneratif. Sumber n-3 yang baik banyak ditemukan pada organisme hasil perairan seperti ikan Sardin. Pemanfaatan ikan Sardin di Indonesia sejauh ini terbatas pada industri penepungan dan pengalengan ikan. Hasil samping dari kedua proses tersebut berupa minyak ikan yang tidak termanfaatkan secara optimal. Hasil samping tersebut dapat dijadikan sumber omega 3 potensial jika diproses dan dikembangkan lebih lanjut. Produk yang dapat dihasilkan dari hasil samping penepungan dan pengalengan ikan adalah minyak ikan Sardin kaya n-3.

          Minyak ikan Sardin murni kaya n-3 diproses dari minyak Sardin kasar (Sardinella sp.) yang didapat dari hasil samping industri penepungan ikan. Minyak ikan Sardin murni memiliki kualitas yang baik karena telah dimurnikan dari pengotor maupun asam lemak bebas yang terkandung pada minyak ikan Sardin kasar. Hasil profil asam lemak minyak ikan Sardin menunjukkan kandungan nilai PUFA mencapai 32,71 persen dengan kandungan omega 3 sebesar 28,01 persen, sehingga minyak ikan Sardin murni yang dihasilkan akan omega 3. Pemurnian minyak ikan dilakukan untuk menghilangkan komponen yang tidak diinginkan dan menstabilkan karakterisitik minyak (Crexi et al. 2009). Dalam minyak ikan yang masih kasar terkandung banyak senyawa hidroperoksida seperti aldehid dan keton yang dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia. Sidhu et al.(2003) menyatakan bahwa senyawa hasil oksidasi merupakan radikal bebas yang dapat menyebabkan penyakit degeneratif yaitu kanker dan penyakit jantung koroner.

Proses pemurnian minyak ikan dapat dilakukan dengan dua tahapan penting yaitu netralisasi dan pemucatan dengan adsorben. Pemurnian minyak ikan Sardin dengan proses netralisasi terlebih dahulu untuk menghilangkan komponen asam lemak bebas yang terkandung pada minyak ikan kasar. Proses netralisasi yang dilakukan memanfaatkan kaustik soda (NaOH) dengan menghitung nilai asam lemak bebas awal yang ada pada minyak ikan Sardin kasar. Proses netralisasi dimulai dengan memanaskan sampel minyak ikan kasar pada suhu 40 ℃ kemudian dicampur dengan larutan NaOH  18 °Be (Feryana et al. 2014). Campuran tersebut diaduk dengan hot plate strirrer selama 10 menit dengan kecepatan 800 rpm, kemudian diberi air panas sebesar 5% dan didekantasi selama 15 menit. Sampel yang didekantasi kemudian dipisahkan dari soap stock dan menghasilkan minyak semi-refined. Minyak hasil pemurnian dianalisis rendemen, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida. Setelah proses netralisasi, dilanjutkan dengan pemucatan menggunakan adsorben miracle filter powder (MFP) agar warna yang dihasilkan lebih menarik dan bebas dari berbagai pengotor. MFP mengandung magnesium silikat dengan luas permukaan yang aktif  sehingga mampu menyerap pengotor pada minyak. MFP optimum yang digunakan sebanyak 3 persen, suhu adsorbsi 50 oC dengan waktu kontak 15 menit. Reaksi adsorpsi dilakukan dengan pengadukan konstan menggunakan magnetic stirrer dengan suhu 50 ℃ (Suseno et al. 2011) selama 20 menit. Karakteristik awal minyak ikan hasil netralisasi dan pemucatan, meliputi profil asam lemak, kadar asam lemak bebas, bilangan asam, dan bilangan peroksida. Bahan baku pembuatan minyak ikan Sardin berasal dari hasil samping penepungan ikan Sardin di PT. Hosana Buana Tunggal Bali. Hasil samping penepungan ikan di kawasan Banyuwangi dan Bali berupa minyak ikan dengan rendemen mencapai 5 % dan belum termanfaatkan secara optimal. Umumnya minyak ikan kasar Sardin hasil penepungan memiliki warna yang gelap, bilangan peroksida yang tinggi dan kadar asam lemak bebas yang tinggi. Omega 3 penting untuk kesehatan untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah, hipertensi, kanker, arthritis, jantung koroner, inflamasi, efek hypotrigliceridemic dan diabetes. Menurut Hashimoto et al. (2005), asam lemak n-3 sangat penting untuk membantu fungsi kerja otak, terutama untuk proses pertumbuhan dan perkembangan otak, sehingga minyak ikan Sardin murni sangat baik untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.  


Keunggulan Teknologi

Keunggulannya adalah bahan baku yang mudah didapat dan melimpah, teknologi proses yang sederhana, mudah dan murah sehingga dapat diadopsi oleh seluruh kalangan industri baik UKM maupun perusahaan. Warna minyak yang dihasilkan jauh lebih menarik serta karakteristik telah sesuai standar dan terlebih lagi inovasi ini dapat mencapai tujuan pemerintah dalam menciptakan industrialisasi perikanan berkelanjutan dan memenuhi salah satu poin dalam konsep blue economy seperti minimize waste yakni meminimalisir limbah dengan memanfaatkannya menjadi produk yang bernilai tambah. Proses netralisasi dalam pemurnian minyak ikan dapat menggunakan kaustik soda. Tujuan dari netralisasi adalah menghilangkan asam lemak bebas. Penggunaan NaOH dalam netralisasi memiliki beberapa kelebihan, salah satunya mudah didapat dengan harga terjangkau. Metode ini mudah diaplikasikan secara massal untuk meningkatkan kualitas minyak ikan dengan mengurangi kandungan bahan pengotor yang terkandung dalam minyak. Tahapan pemurnian setelah netralisasi adalah dengan pemucatan menggunakan adsorben. Adsorben yang digunakan adalah Miracle Filter Powder yang merupakana dsorben dari magnesium silikat dengan kelebihan khusus. MFP memiliki standar foodgrade. Adsorben yang ditambahkan dalam minyak dapat menghilangkan senyawa oksidasi, pigmen, residu logam berat, dan mencerahkan warna (Suseno et al. 2014). Kelebihan dari MFP mampu menyerap pengotor dan mereduksi asam lemak bebas dan peroksida pada minyak. Dengan menggunakan Miracle Filter Powder dapat meningkatkan kualitas minyak.


Potensi Aplikasi

Minyak ikan yang kaya akan n-3 saat ini telah menjadi salah satu nutrasetikal dan bahan fortifikasi pangan yang banyak digunakan oleh masyarakat. Omega-3 merupakan asam lemak tak jenuh yang esensial bagi tubuh. Konsumsi EPA dan DHA mampu menurunkan resiko kematian mendadak hingga 45% yang memberi dampak positif terhadap penderita penyakit jantung koroner. EPA dan DHA juga menurunkan kolesterol dalam darah khususnya LDL, anti agregasi platelet, dan anti inflamasi (Haris 2004). Produk hasil pemanfaatan minyak ikan Sardin kaya n-3 adalah minyak ikan terkapsul softgel,emulsi, berbagai bentuk fortifikasi produk seperti biskuit, margarin, produk susu, mayonnaise, es krim,  susu formula dan lain sebagainya (Jacobsen 2004). Setelah proses netralisasi nilai asam lemak bebas tereduksi sebesar 90.83 persen, sementara setelah proses bleaching nilai PV mengalami penurunan hingga 21 persen, nilai FFA dan bilangan asam tereduksi hingga 30.71 persen. Hal ini sebagai bukti bahwa metode pemucatan minyak ikan dengan menggunakan MFP berhasil mereduksi nilai parameter oksidasi minyak ikan. Proses pemurnian dengan mempertahan suhu 50 oC, NaOH sebesar 18 oBe dan waktu 15 menit merupakan perlakuan terbaik pada proses pemurnian minyak ikan Sardin. Hasil analisis asam lemak minyak ikan Kasar memiliki total PUFA 29.04 %, Semi refined 23.84% dan minyak ikan murni 24.24%. Kandungan PUFA terdiri atas EPA dan DHA yang memiliki persentase yang tinggi. Hal ini sangat mendukung dalam pemanfaatan minyak ikan Sardin sebagai sumber omega 3 yang kaya EPA dan DHA.