• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Reconstructed Human Epidermis (RHE) sebagai model uji iritasi kulit in vitro


Abstrak

RHE adalah konstruksi 3-dimensi jaringan epidermis kulit manusia yang tersusun dari basal, spinosus, dan lapisan granular pada lapisan stratum korneum. Jaringan ini menunjukkan karakteristik in vivo secara morfologi dan fisiologi, sehingga memungkinkan aplikasi topikal pada permukaan jaringan dengan meniru rute paparan pada manusia. Dapat digunakan sebagai model uji toksisitas topikal secara in vitro sebagai alternatif dari uji in vivo

Deskripsi

Di Indonesia pengujian khasiat dan keamanan (toksisitas) suatu produk yang digunakan langsung pada kulit seperti kosmetika, obat luar, alat kesehatan (kondom, sarung tangan, perban) masih dilakukan secara in vivo menggunakan hewan percobaan seperti kelinci dan marmot, namun isu animal welfare mengharuskan pembatasan penggunaan hewan percobaan. Di negara maju terutama Uni Eropa sudah mulai menerapkan pelarangan pengujian kosmetika menggunakan hewan percobaan (Nelson et al,. 1980), oleh sebab itu dikembangkan metoda pengujian in vitro sebagai metoda alternatif.

Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM), Badan  POM melakukan inovasi pertama di Indonesia dengan mengembangkan metoda alternatif secara in vitro menggunakan model kulit ekivalen yang merupakan hasil rekonstruksi dari epidermis kulit manusia (Reconstructed Human Epidermis/ RHE). Desain RHE secara keseluruhan meniru sifat biokimia dan fisiologis epidermis dari kulit manusia. RHE dapat digunakan untuk identifikasi bahan kimia iritan (zat dan campuran) sesuai dengan Globally Harmonized System of Classification and Labelling (GHS) kategori 2. Keunggulan pengujian toksisitas secara in vitro antara lain mudah, waktunya lebih singkat dengan biaya yang relatif lebih murah serta dapat menghindari penggunaan hewan percobaan sehingga sering digunakan untuk skrining awal dalam evaluasi keamanan untuk pengembangan produk baru. RHE ini dapat digunakan sebagai model kulit ekivalen untuk berbagi jenis pengujian toksisitas seperti iritasi kulit, efek dari radiasi UV untuk produk mengandung tabir surya, uji korosi, sensitisasi kulit dan sebagainya.

Di beberapa negara maju telah dilakukan pembuatan RHE, namun pengadaan model kulit ekivalen RHE di Indonesia bukanlah hal yang mudah karena harus mendatangkan (import) dari luar negeri. Untuk itu diperlukan biaya pengadaan yang tinggi karena RHE merupakan sel hidup yang memerlukan penanganan khusus. RHE juga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan selama transportasi sehingga sel-selnya seringkali sudah mati sebelum digunakan. Dengan demikian, riset pembuatan RHE dan validasinya sangat diperlukan di Indonesia, selain untuk penghematan biaya juga menghindari ketergantungan dengan negara lain dan yang terpenting RHE ini compatible dengan kulit orang Indonesia.

 

Kebutuhan RHE untuk pengujian toksisitas topikal secara in vitro sudah sangat mendesak untuk mengantisipasi penerapan larangan pengujian keamanan dan manfaat penggunaan produk kosmetika dengan hewan percobaan, selain itu dengan maraknya Notifikasi Kosmetik diperlukan pengawasan yang lebih efektif. RHE komersial belum diproduksi di Indonesia dan belum tersedia di pasar dalam negeri, pengadaannya dengan mengimpor sangat berisiko tinggi mengingat umur sel yang sangat singkat. Inovasi pengembangan RHE yang sesuai dengan struktur kulit orang Indonesia sangat memungkinkan dilakukan di Laboratorium PROM BPOM.

RHE telah dibuat di negara-negara Eropa seperti Perancis, Jerman, Belgia, Belanda, juga di Amerika,  RHE dibuat dengan mengkultur keratinosit manusia dari negara-negara Eropa, dimana sifat dan fisiologi kulit dari orang-orang Eropa berbeda dengan sifat dan fisiologi kulit orang Indonesia, untuk itu di Indonesia perlu RHE yang dikultur dari kulit orang Indonesia agar pada penggunaannya nanti sesuai dengan sifat fisiologis kulit orang Indonesia. Pembuatan RHE dari kulit orang Indonesia ini memperbarui RHE yang telah dibuat di negara-negara Eropa, sehingga dapat digunakan sesuai dengan sifat fisiologis kulit orang Indonesia.

 

RHE yang diteliti dapat digunakan untuk uji toksisitas (uji iritasi kulit primer) dari produk yang langsung bersentuhan atau menempel pada kulit, dan berpotensi dikembangkan untuk fungsi lain seperti uji sensitifitas pada kulit (identifikasi allergen) dengan modifikasi  pada penangan dan perlakuan terhadap sel.

Sehubungan RHE mempunyai keterbatasan masa aktif (life time), maka RHE tidak bisa di produksi massal dan disimpan dalam waktu lama, produksi dapat dilakukan sebatas kebutuhan dan permintaan. Resiko operasional dapat terjadi dalam produksi RHE yaitu pembuatan RHE riskan dengan kontaminasi eleh jamur, bakteri dan yeast, sehingga kultur   bisa mati atau tidak sesuai karateristik RHE yang diinginkan.

 

 

 


Keunggulan Teknologi

Teknis pembuatan Reconstructed Human Epidermis (RHE) dibutuhkan keahlian, sarana  dan prasarana khusus, tetapi dalam penggunaan RHE sebagai model uji iritasi kulit sangat sederhana. RHE ini memberikan nilai tambah bagi industri-industri kosmetik dan medical devices dalam negeri nantinya dan dapat digunakan untuk kontrol kualitas terhadap produk kosmetika, obat topikal, medical devices (kondom, sarung tangan, perban) secara in vitro, dapat menggantikan uji vivo yang dilakukan pada hewan uji

 


Potensi Aplikasi

RHE  menarik bagi industri kosmetik dan medical devices dalam negeri, karena dengan adanya RHE ini pengujian untuk identifikasi bahan kimia iritan dapat lebih efisien dari segi waktu maupun biaya. Mendukung animal welfare, tidak perlu mengorbankan demikian banyak kelinci atau hewan lainnya. Sangat bermanfaat untuk lembaga pemerintah (Badan POM) dalam uji keamanan produk-produk yang telah beredar baik produksi dalam negeri maupun dari  luar negeri yang saat ini demikian banyak  produk luar yang membanjiri pasar di Indonesia, dengan adanya Notifikasi Kosmetik dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) maka produk luar dapat masuk ke Indonesia dengan mudah, untuk itu diperlukan pengawasan post market yang lebih intensif dengan metoda yang valid.