• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Produksi Nanokurkuminoid dan Khasiatnya sebagai Antioksidan, Antiinflamasi dan Anti bakteri


Abstrak

Invensi ini berhubungan dengan pengembangan metode produksi sediaan nanokurkuminoid dari temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)yang dapat digunakan sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri. Temulawak diekstraksi kurkuminoid dengan menggunakan pelarut bervariasi. Produksi nanokurkuminoid temulawak dilakukan melalui optimasi ektrak kurkuminoid dan surfactan. Nanokurkuminoid diuji khasiatnya sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri.

Deskripsi

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) merupakan tanaman khas Indonesia dan biasa ditanam di pulau Jawa. Rimpang temulawak selain kaya akan senyawaan sesquiterpen (seperti xantorizol, bisakumol, bisakurol, bisakurona, dan zingiberena), juga mengandung kurkuminoid (1–2%). Warna kuning khas dan efek farmakologis rimpang temulawak berkaitan erat dengan senyawaan kurkuminoid yang dikandungnya.

\

Senyawa kurkuminoid memiliki bioavailabilitas rendah karena hampir tidak larut dalam air pada pH asam dan netral sehingga sulit sekali terabsorpsi. Kurkumin juga mengalami metabolisme yang cepat, dan pengeluaran sistemik yang cepat. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah nanopartikel lemak padat (solid lipid nanoparticle/SLN) yang telah menjadi sistem koloid pembawa yang menjanjikan.

\

Nanopartikel lemak padat dikembangkan sebagai suatu alternatif untuk nanopartikel polimer, liposom, dan emulsi. Berbagai penelitian untuk mengembangkan nanopartikel lemak padat sebagai sistem pengantaran obat telah banyak dilakukan. Yadav et al. (2008) melaporkan bahwa kurkumin yang dimuat dalam mikropartikel asam palmitat melalui pengadukan kecepatan tinggi dan ultrasonikasi memiliki efisiensi penjerapan yang tinggi (74,58%), bentuk yang membulat, permukaan yang teratur, dan ukuran partikel kurang dari 312 µm. Abdelbary dan Fahmi (2009) melakukan pencirian diazepam (senyawa aktif yang tidak larut air) yang dimuat dalam nanopartikel lemak padat (gliseril behenat). Pushpendra et al. (2009) mengembangkan formulasi dan pencirian nanopartikel lemak padat (natrium taurokolat) yang mengandung nimesulid dengan metode pengadukan kecepatan tinggi. Penelitian lain adalah pembuatan dan pencirian nanopartikel lemak padat (gliseril kaprat dan mentega cokelat) yang memuat doksorubisin.

\

Penelitian mengenai lemak padat sebagai bahan penyalut kurkuminoid belum banyak dilakukan. Yadav et al. (2008) baru melakukan pengembangan mikropartikel asam palmitat sebagai bahan penyalut kurkuminoid. Kelarutan asam lemak dalam air meningkat dengan bertambahnya suhu dan menurun dengan bertambahnya jumlah atom karbon. Polaritas asam lemak tersebut akan mempengaruhi interaksinya dengan kurkuminoid dan mekanisme pelepasan obat. Semakin banyak jumlah atom karbon maka interaksinya dengan kurkuminoid akan semakin kuat (interaksi hidrofobik) tetapi akan mempersulit pelepasan kurkuminoid ketika mencapai target di dalam tubuh. Dengan demikian, pemilihan asam lemak sangat berpengaruh pada pelepasan zat aktif dan satabilitas nanopartikel lemak padat yang dihasilkan.

\

Invensi ini mengembangkan metode produksi sediaan nanokurkuminoid dari temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)yang dapat digunakan sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri. Berdasarkan pengalaman dan penelitian, khasiat yang dimiliki oleh komponen kimia dalam temulawak adalah antibakteri, antijamur, antioksidan dan antilipidemia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa komponen aktif utama yang terdapat dalam temulawak adalah xantorrhizol dan kurkuminoid. Khasiat yang dimiliki oleh meniran adalah sebagai antioksidan, antimalaria, antihiperurisemia, hipoglikemia, hepatoprotektor, dan inhibitor replikasi HIV.

\

Kurkuminoid diambil dari temulawak melalui ekstraksi dengan metode maserasi dengan etanol 96% selama 48 jam. Residu hasil maserasi diekstraksi kembali dengan metode Soxhlet menggunakan pelarut etanol sampai pelarut tidak berwarna. Selanjutnya, ekstrak etanol dari kedua metode ekstraksi tersebut diekstraksi cair-cair menggunakan pelarut heksana untuk menghilangkan minyak atsiri. Fraksi etanol selanjutnya dipekatkan dengan penguap putar untuk membentuk ekstrak kurkuminoid. Ekstrak kurkuminoid digunakan untuk optimasi produksi nanokurkuminoid.

\

Untuk mendapatkan metode terbaik dalam membentuk nanokurkuminoid maka dilakukan optimasi pembentukan nanokurkuminoid. Hasil karakterisasi nanopartikel kurkuminoid dianalisis dengan PSA. Suatu sistem penghantaran obat harus memiliki kapasitas pemuatan obat yang tinggi dan bertahan lama. Kapasitas pemuatan obat (efisiensi penjerapan) EP dihitung dengan metode langsung, yaitu dengan mengekstraksi kurkuminoid yang terjerap dalam matriks lemak menggunakan metanol setelah lemak padat dipisahkan dari medium pendispersi dengan sentrifugasi.

\

Analisis antioksidan sediaan nanokurkuminoid ditentukan dengan menggunakan metode DPPH yang menunjukkan bahwa sediaan nanopartikel kurkuminoid pada semua variasi konsentrasi ekstrak kurkuminoid dan poloxamer memberikan aktivitas antioksidang yang tinggi. Analisis antiinflamasi dilakukan secara in vitro dengan menggunakan kit ELISA COX Cayman menunjukkan bahwa ekstrak kurkuminoid 0.4 g dan poloxamer 1.5 g memberikan aktivitas antiinflamasi terbaik.

\

Analisis antibakteri sediaan nanokurkuminoid terhadap bakteri Streptococcus mutans menunjukkan aktivitas yang sangat baik dengan range zona hambat dari konsentrasi sediaan 10 – 100% mencapai 0.00 – 8.89 mm dengan ekstrak kurkuminoid dan poloxamer optimum. Bakteri S. mutans merupakan bakteri yang dapat menyebabkan plug pada karies gigi. Kandungan bioaktif utama yang terdapat pada temulawak adalah kurkuminoid dan xanthorrhizol. Pembentukan sediaan nanopartikel tidak menghilangkan komponen aktif yang ada, hal ini didasarkan pada hasil analisis HPLC yang menunjukkan adanya komponen kurkuminoid dan xanthorrhizol.


Keunggulan Teknologi

Kurkuminoid merupakan salah satu komponen aktif yang terkandung dalam tanaman temulawak. Kurkuminoid terbukti memiliki berbagai khasiat dalam bidang kesehatan dan pengobatan pada berbagai penyakit. Namun dalam aplikasinya, senyawa kurkuminoid memiliki bioavabilitas yang sangat rendah. Sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan bioavabilitas dari senyawa kurkuminoid tersebut sehingga ketika di aplikasikan dalam pengobatan dapat memberikan efek kesehatan yang tinggi.  Salah satu yang bisa dikembangkan untuk kurkuminoid ini adalah membentuk sediaan menjadi nanopartikel yang tersalut. Nanokurkuminoid yang dihasilkan dapat meningkatkan kemampuan loading  obat, stabilitas tinggi dan meningkatkan bioavabilitas. Penggunaan kurkuminoid masih terbatas pada senyawa murni. Partikel nano memberikan banyak keunggulan, diantaranya meningkatkan kelarutan, mengurangi dosis medis, dan meningkatkan penyerapan obat herbal dibandingkan dengan preparasi obat secara kasar. Sehingga melalui inovasi teknologi nanokurkuminoid dari herbal temulawak dapat meningkatkan pemanfaatan temulawak dan kunyit sebagai obat/suplemen dengan model uji khasiat sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri. Sehingga secara komersial sediaan nanokurkuminoid ini dapat meningkatkan market acceptance sediaan yang berasal dari tanaman temulawak.


Potensi Aplikasi

Invensi ini sangat berpotensi untuk diaplikasikan pada industri obat-obatan dan kesehatan. Potensi aplikasinya juga bisa diterapkan pada UKM atau kelompok-kelompok tani yang mengembangkan pengobatan herbal.