• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Pisang Penangkal Sakit Gula

Pemanfaatan Bakteri Indigenous pada Formulasi Pangan Fungsional Antidiabetes Berbasis Pisang

Deskripsi Singkat


Inovasi ini bertujuan menciptakan pangan fungsional yang menggunakan bahan dasar pisang dalam bentuk food in jar. Pisang sebagai sumber vitamin dan karbohidrat, bahkan telah di identikkan sebagai sumber fructooligosakarida (FOS). pemilihan bahan dasar tersebut karena memiliki serat yang tinggi dan juga merupakan hasil pertanian yang melimpah, terutama di sulawesi selatan. Telah dilakukan proses pencarian mikroba pemfermentasi pisang, yang berasal dari bakteri asam laktat yang dapat merombak nutrisi pisang menjadi lebih mudah dicerna.

Inovasi ini memanfaatkan pisang sebagai subtrat dari bakteri, prinsipnya adalah bakteri yang diperoleh dari pisang dan dikembalikan untuk memfermentasi pisang, sehingga akan bermanfaat pada proses perombakan nutrisi ataupun manfaat lain(prebiotik dan probiotik). Inovasi ini pada dasarnya telah ada misalnya pada pemanfaatan bakteri probiotik pada fermentasi yogurt dan pada kedelai menghasilkan soygurt. Berdasarkan hasil penelusuran beberapa produk telah dipasarkan dengan memanfaatkan kombinasi antara buah lain dengan pisang, tetapi menggunakan bakteri Bacillus coagulans atau Lactobacillus acidhopilus. Hasil penelusuran paten dengan no CN107981293A menemukan bahwa selai pisang yang difermentasi dengan cara mencampurkan 100g pulp pisang steril, 100-500 ml air steril, dan 0,8 hingga 3-9 g gula dan Bacillus coagulans. bubuk lyophilized, dicampur, difermentasi 2 - 8hari pada suhu 26 - 40 ?, untuk menghasilkan selai pisang fermentasi.

Formulasi dari inovasi ini yaitu mencampurkan antara pisang yang telah dihancurkan dengan telur dengan perbandingan 1 berbanding 3, dan ditambahkan susu dengan perbandingan 1 banding 10 dimasak pada suhu 1210c pada pada tekanan 1 atm. Setelah itu ditambahkan bakteri terpilih (isolate indigenous) dan melalui proses fermentasi selama 180 menit- 14 jam, hal ini akan mempengaruhi kekenyalan produk, selain itu hal ini dimaksudkan untuk menguraikan inulin menjadi ruktooligosakarida (FOS). Selain itu proses fermentasi ini akan mempengaruhi sifat fungsional dari produk tersebut. Berdasarkan uji organoleptik kadar kesukaan panelis lebih besar pada produk yang dilakukan fermentasi awal. Semakin lama daya tahan maka semakin mudah untuk memasarkan dan mendidistribusikan. Untuk penyimpanan dan konsumsi inovasi ini disimpan pada suhu 40C. Suhu tersebut juga mempengaruhi kadar kesukaan konsumen, dengan suhu tersebut dapat menambah cita rasa produk. Formulasi dari produk ini berupa pisang sebagai sumber vitamin dan serat, telur sebagai sumber protein, dan susu sebagai sumber lemak. Adapun jumlah kalori pada produk ini sekitar 336 kkal.

Perbedaan mendasar inovasi ini terletak pada pemanfaatan bakteri indigenous yang secara sifat berbeda dengan bakteri lain. Bakteri ini diperoleh melalui proses isolasi dari pisang, dari 17 Bakteri, selanjutnya diuji kemampuannya memetabolisme senyawa, dihasilkan 7 bakteri yang terpilih berdasarkan kemampuannya sebagai probiotik yaitu ketahanan pada kondisi asam dan kondisi garam empedu yang ada dipencernaan. Berdasarkan kemampuan menghasilkan enzim, bakteri tersebut dapat memproduksi enzim Alfa galactosidase dan Beta glukosidase enzim tersebut digunakan dalam proses perombakan senyawa pada pisang.

 Pengujian telah dilakukan, dari 7 bakteri yang berpotensi probiotik. Berdasarkan pengujian terdapat 3 bakteri yang memiliki sifat antibakteri, yaitu menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu juga menghasilkan keasamamaan yang standar sehingga tidak begitu mempengaruhi cita rasa dari formulasi yang telah dikaji. Hasil uji laboratorium juga telah mempelajari kemampuan bakteri untuk menghambat enzim alfa glukosidase, dan diperoleh 1 bakteri yang ketika dibandingkan dengan control positif yaitu acarbose(obat antidiabetes) diketahui bahwa bakteri jenis Lactobacillus strain G1 menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang dapat berfungsi sebagai obat antidiabetes. Penggunaan bakteri tersebut akan melengkapi fungsi dari fermentasi pisang sebagai prebiotik dan bakteri sebagai probiotik antidiabetes. Bakteri yang terbaik digunakan sebagai bakteri pemfermentasi. Bakteri tersebut akan menghasilkan senyawa inhibitor alfa glukosidase (senyawa antidiabetes) pada subtract yaitu pisang. Pemanfaatan bakteri tersebut akan menjadi inovasi baru yang menghasilkan produk baru yang dapat di jadikan pangan fungsional antidiabetes.

Anti-Diabetic Banana

 

Short Description


-


Perspektif

-


Keunggulan Inovasi:

1. Keunggulan tekhnologi ini yaitu sumber bahan baku yang melimpah, karena pisang merupakan tanaman yang berbuah sepanjang tahun, terutama di Sulawesi Selatan. 2. Produk ini melalui proses fermentasi sehingga senyawa pada pisang lebih sederhana dan mudah diserap. 3. Produk ini diformulasikan berdasarkan angka kecukupan gizi secara umum pada penderita diabetes. 4. Isolat Bakteri pemfermentasi yang menghasilkan senyawa inhibitor alfa glukosidase(obat antidiabetes) yang sifatnya sama dengan acarbose


Potensi Aplikasi:

1.Potensi aplikasi sangat besar, hal ini ditunjang dengan melimpahnya bahan baku pisang. 2.Gaya hidup masyarakat yang mulai berubah kearah pangan fungsional. 3.Penderita diabetes dan masyarakat yang ingin menjaga kadar gula darah menjadi sasaran dari produk ini. 4. Dapat diaplikasikan sebagai bakteri sumber enzim(untuk produksi enzim) 5. Isolat bakteri dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasil senyawa inhibitor alfaglukosidase(obat antidiabetes)


Innovator:

Tim Inovasi

Lismayana Hansur, dr.dara ugi M.Kes

Institusi

LP3M UNISMUH Makassar

Alamat

Jl. Sultan Alauddin no 259 Makassar, Sulawesi Selatan 90221

Status Paten

Dalam Proses Pengajuan

Kesiapan Inovasi

** Siap Dikomersialkan

Kerjasama bisnis

** Luas

Peringkat Inovasi

** Sangat Prospektif


File

Tidak ada


Video

Tidak ada


Perkembangan Inovasi