• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Jaring Ikan Ramah Lingkungan

Pembuatan Material Alat Penangkap Ikan Ramah Lingkungan

Deskripsi Singkat


Alat penangkapan ikan memiliki bahan pembentuk yang berbeda-beda. Bahan tersebut dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu bahan alami dan sintetis. Bahan alami merupakan bahan pembuat alat penangkapan ikan yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan barang tambang. Bahan alami yang biasanya digunakan nelayan diantaranya adalah cotton, coir atau serat kelapa, manila, rami, hemp, besi, baja, dan timah. Adapun bahan sintetis yang digunakan nelayan diantaranya adalah polyamide (PA), polyester (PES), polyethilene (PE), polyprophilene (PP), polyvinil chloride (PVC), polyvinylidene chloride (PVD), dan polyvinyl alcohol (PVA) (Klust 1982).

Dewasa ini nelayan banyak memilih bahan sintetis dibandingkan bahan alami untuk membuat alat penangkapan ikan, khususnya dari bahan jaring. Hal ini dikarenakan umur teknisnya lebih tinggi, sehingga lebih efisien, baik dalam hal biaya maupun tenaga. Tidak seperti bahan alami yang memiliki umur teknis relatif rendah, karena pada umumnya terbuat dari serat tumbuhan. Umur teknis yang tinggi pada bahan sintetis sebagai penyusun alat tangkap memang sangat diperlukan, agar alat tangkap yang dibuat menjadi lebih awet dan tidak mudah rusak. Namun, umur teknis yang tinggi tersebut merupakan kelemahan yang akhirnya menjadi masalah lingkungan akibat dari penggunaan sejumlah jenis alat penangkapan ikan, khusunya yang berbahan jaring.

Ketika sudah tidak digunakan, jaring nelayan bekas alat penangkapan ikan menjadi masalah sampah di area pemukimannya. Masalah lingkungan lain yang timbul adalah ghost fishing/ghost netGhost fishing merupakan peristiwa hilangnya jaring di perairan dan masih terus melakukan operasi penangkapan tanpa kontrol dari nelayan. Penangkapan terus berlangsung hingga alat penangkapan ikan ini rusak (Good et al. 2010). Menurut FAO, sekitar 640.000 ton alat tangkap hilang pada setiap tahunnya (APEC 2004). Alat penangkapan ikan yang hilang di perairan berdampak kepada biota perairan dan habitatnya (Gilardi et al. 2010).

Oleh karena itu, sangat penting diketahui material alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Melalui inovasi ini, bahan alat penangkapan ikan ramah lingkungan telah berhasil dibuat dari bahan serat tumbuhan, yaitu serabut pandan laut, serabut coir atau kelapa, serabut rami dan serabut agel. Serabut tersebut dibuat menjadi tali dengan perlakuan penguatan tali menggunakan kitosan.

Tahap-tahap kegiatan :

a. Melakukan pengadaan bahan. Pengadaan bahan berupa tali pandan laut, tali coir, tali rami dan tali agel melalui pemesanan tali jadi dengan diameter 0,3-0,4 cm. Sementara bahan daun nanas dan batang pisang diperoleh dalam bentuk serabut, sehingga harus dilakukan pemilinan terlebih dahulu.

b. Melakukan proses pembuatan benang. Benang yang akan dibuat dikelompokkan ke dalam 2 macam, yaitu benang yang berbahan serat (tanpa dihancurkan) dan dilapisi oleh kitosan, serta benang yang berbahan serat (dihancurkan hingga berbentuk nano fiber) dan dicampurkan dengan kitosan. Pembuatan benang yang terbuat dari nano fiber meliputi tahapan:
- Pulping serat dengan cara kimiawi dan mekanik
- Pembuatan nano fiber dengan penggunaan sinar ultrasonik
- Pembuatan benang dengan campuran kitosan

c. Melakukan perlakuan perendaman terhadap benang yang sudah dibuat pada media air laut dan air tawar
d. Pengujian daya tahan putus benang menggunakan universal testing machine(UTM);

Hasil uji di laboratorium menunjukkan bahwa setiap jenis tali memiliki sifat fisik dan mekanik yang berbeda sebagai berikut :

1. Sifat fisik bahan uji pandan laut adalah bewarna coklat muda agak mengkilat, penampilan kaku, diameter rata-rata 0,47 cm dari kisaran 0,43 – 0,51 cm. Kadar air berkisar antara 0,08 – 0,14 % dengan rata-rata 0,12%. Berat jenis berkisar antara 0,86 – 0,98 g/cm³ dengan rata-rata 0,91 g/cm³. Load maksimal untuk kontrol adalah 11,67 kgf dan berkitosan adalah 11,79 kgf. Elongation pada kontrol adalah 2,95 cm dan yang berkitosan adalah 3,29 cm. Breaking strength kontrol adalah 115,91 kgf/cm² dan berkitosan 109,14 kgf/cm².

2. Sifat fisik bahan uji coir adalah bewarna coklat, penampilan kaku dan kasar, diameter rata-rata 0,63 cm dari kisaran 0,56 – 0,70 cm. Kadar air berkisar antara 0,10 – 0,15 % dengan rata-rata 0,12%. Berat jenis berkisar antara 0,88 – 0,96 g/cm³ dengan rata-rata 0,91 g/cm³. Load maksimal untuk kontrol adalah 8,9 kgf dan berkitosan adalah 10,11 kgf. Elongation pada kontrol adalah 3,50 cm dan yang berkitosan adalah 3,60 cm. Breaking strength kontrol adalah 133,09 kgf/cm² dan berkitosan 537,81 kgf/cm².

3. Sifat fisik bahan uji agel adalah bewarna coklat, relatif lentur, diameter rata-rata 0,13 cm dari kisaran 0,11 – 0,15 cm. Kadar air berkisar antara 0,02 – 0,08 % dengan rata-rata 0,04%. Berat jenis berkisar antara 0,83 – 1,19 g/cm³ dengan rata-rata 0,97 g/cm³. Load maksimal untuk kontrol adalah 15,65 kgf dan berkitosan adalah 22,07 kgf. Elongation pada kontrol adalah 2,62 cm dan yang berkitosan adalah 3,06 cm. Breaking strength kontrol adalah 438,97 kgf/cm² dan berkitosan 421,27 kgf/cm².

4. Sifat fisik bahan uji rami adalah bewarna coklat muda, penampilan kaku, diameter rata-rata 0,30 cm dari kisaran 0,27 – 0,34 cm. Load maksimal untuk kontrol adalah 17,60 kgf dan berkitosan adalah 17,77 kgf. Elongation pada kontrol adalah 3,14 cm dan yang berktosan adalah 3,45 cm. Breaking strength berkitosan adalah 801,18 kgf/cm².

5. Degradasi pada bahan uji berdasarkan angka breaking strength, load maksimal, elongation dan diameter bahan uji tidak tampak.

Eco-Friendly Fish Nets

 

Short Description


-


Perspektif

-


Keunggulan Inovasi:

Inovasi ini menggunakan kitosan sebagai bahan utama pembuatan benang jaring ramah lingkungan. Kitosan digunakan karena sudah banyak penelitian yang menggunakan kitosan sebagai plastik degradable. Selain itu, kitosan memiliki sifat yang tidak larut dalam air, memiliki ketahan kimia yang cukup baik, dan dapat terdegradasi (Kumar et al. 2011). Kitosan juga dapat menyerap racun, sehingga dapat menetralisir racun yang ada di dasar perairan. Selanjutnya, kondisi ini akan mengakibatkan dasar perairan lebih subur.

Selain itu, bahan alami yang digunakan dalam pembuatan benang jaring ini berasal dari serat tumbuhan, diantaranya adalah serat pandan laut, coir, agel dan rami. Pemilihan jenis serat tersebut dikarenakan ketersediaanya cukup banyak di lapangan.

Inovasi benang jaring dengan menggunakan bahan-bahan alami ini memiliki nilai positif seperti mengurangi masalah lingkungan berupa sampah jaring di lingkungan pemukiman nelayan, dapat mengurangi dampak ghost fishing di perairan dan dapat menjadi masukan bagi pemerintah terkait kebijakan tentang alat penangkap ikan.


Potensi Aplikasi:

Inovasi ini memiliki potensi untuk dikembangkan dan dapat menjadi masukan bagi pemerintah terkait kebijakan tentang alat penangkap ikan. Dewasa ini nelayan banyak memilih bahan sintetis dibandingkan bahan alami untuk membuat alat penangkapan ikan, khususnya dari bahan jaring. Hal ini dikarenakan belum tersedianya jaring berbahan alami. Inovasi ini dapat menjadi solusi untuk permasalahan tersebut.

Selain itu, bahan-bahan untuk membuat benang jaring ini mudah didapat dan ketersediaannya melimpah di Indonesia. Dengan melimpahnya bahan, maka inovasi ini dapat dikembangkan ke skala yang lebih besar
.


Innovator:

Tim Inovasi

Dr. Ir. Diniah, M.Si., Dr. Ir. Gondo Puspito, M.Sc., Ir. Mokhamad Dahri Iskandar, M.Si

Institusi

Institut Pertanian Bogor

Alamat

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan - FPIK, Kampus IPB Dramaga Bogor 16002

Status Paten

Belum Didaftarkan

Kesiapan Inovasi

* Prototype

Kerjasama bisnis

* Terbatas

Peringkat Inovasi

* Prospektif


File

Tidak ada


Video

Tidak ada


Perkembangan Inovasi