• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

SISTEM INOVASI DAERAH (SIDA) DI BALI : ANTARA KONSEP DAN MODEL DUNIA NYATA




Telah beberapa tahun pemerintah mengupayakan pembangunan sistem inovasi daerah (SIDA), sebagai salah satu pengeja-wantahan dari Sistem Inovasi Nasional (SINAS), dan diharapkan menjadi bentuk konkrit dari konsep inovasi di tataran nasional, dan penerapannya yang mengakomodasikan sumber-daya, potensi dan kapasitas di setiap daerah (provinsi). Tak kurang dilakukan berbagai seminar, sosialisasi, dan “FGD” agar prakarsa inovasi dalam skala makro ini dapat terwujud dan melibatkan masyarakat, sesuai dengan prinsip A-B-G-C: Academics – Business – Government – Communities. 

Apa Itu Sistem Inovasi (Nasional / Daerah)? 

Sistem inovasi (Nasional / Daerah) adalah “kesatuan” dari berbagai komponen lembaga, sumber daya, infrastruktur dan suprastruktur, jejaring serta proses dan interaksi; yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi beserta difusi dan proses pembelajarannya*

Sistem Inovasi (Nasional / Daerah) diharapkan berfungsi untuk:

  1. Menguasai, mengembangkan dan meningkatkan pendayagunaan Iptek dan Inovasi Nasional (IPTEKIN), termasuk aktivitas penelitian, pengembangan dan perekayasaan / litbangyasa).
  2. Memandu arah bagi para penyedia dan pengguna serta pemangku kepentingan IPTEKIN lainnya, agar semakin mampu mengelola dan memanfaatkan sumber dayanya secara sinergis.
  3. Memperkuat / mengembangkan pasokan sumber daya, yaitu modal / kapital, kompetensi dan sumber daya lainnya.
  4. Memfasilitasi penciptaan / pengembangan eksternalitas yang positif.
  5. Memfasilitasi formasi dan pengembangan pasar.

Lebih lanjut, diperlukan suatu kerangka kebijakan inovasi (KKI) untuk membenahi issue “sistemik: yang menyangkut enam dimensi: (a) mengadakan iklim dan lingkungan yang kondusif bagi inovasi dan bisnis, (b) menghubungkan antara penyedia inovasi dan penggunanya (intermediary), (c) menyediakan wahana interaksi, jaringan dan layanan yang saling terkait dalam ekosistem inovasi, (d) mendorong berkembangnya budaya kreatif dan inovatif, (e) menetapkan fokus dan prioritas untuk terjadinya keterpaduan, koordinasi dan koherensi oleh semua stakeholders inovasi, dan (f) mengantisipasikan dan bertindak proaktif dalam menghadapi dinamika perubahan global.

Sistem Inovasi Daerah “In-Action” di Bali

Sepulang dari kunjungan mengelilingi Bali, penulis melihat banyaknya kegiatan inovatif yang dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat di Bali. Setelah menelusuri “Google” dengan kata kunci “Sistem Inovasi Daerah Bali”, sayangnya justru tidak ditemukan rujukan yang signifikan tentang hal ini. Namun kenyataannya, dengan mudah kita menemukan berbagai inovasi (dalam pemahaman awam: hal-hal baru yang berguna atau menyenangkan) yang pada kunjungan-kunjungan sebelumnya belum ada, atau sekarang telah berubah menjadi lebih baik.  

Tanpa label-label yang “sophisticated” , di Bali kita dapat melihat praktek nyata dari: Industry Clusters, One-Village-One-Product (OVOP), Creative Industry, Crowd Sourcing, Disruptive InnovationInnovation by Combination, maupun jargon-jargon inovasi lainnya.Menjadi pertanyaan dan tantangan bagi kita untuk memahami, bagaimana kerangka kebijakan inovasi dalam rangka membenahi issue “sistemik” inovasi (yang berfungsi lima dan berdimensi enam) sebagaimana diuraikan di atas terjadi seolah secara “alamiah” dan begitu nyata di seluruh Bali, padahal ini tidak begitu nampak di provinsi-provinsi lain di Indonesia?

Paradigma Inovasi 4-P: “People - Product – Process - Press”

Seorang tamu BIC, yang adalah seorang doktor peneliti techno-preneurship / socio-preneurship memberikan pencerahan tentang fenomena inovasi yang terjadi di Bali. Dan untungnya tidak terlalu complicated juga.  Sang tamu, yang kebetulan juga meneliti fenomena inovasi dan entrepreneurship di Bali, berargumen bahwa itu karena paradigma kita tentang (sistem) inovasi seringkali berhenti pada dua hal saja: People (manusia) dan Product (product). Padahal nilai inovasi dewasa ini justru sering lebih dihargai karena Process (proses) nya, termasuk nilai experiential (mengalami), proses interaksi, bahkan saat konsumen menjadi bagian dari proses penciptaan inovasi itu sendiri.  Akhirnya, Press (pers, multi-media, khususnya social media) kini juga selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah-kisah sukses inovasi besar, termasuk yang berskala global.

Seandainya para pemangku kepentingan SIDA di provinsi-provinsi lain ingin mencapai sukses dalam mengembangkan inovasi di daerahnya; paradigma 4-P ini bisa dipertimbangkan.  Setelah melaksanakan berbagai prakarsa, wacana, maupun kebijakan mendorong inovasi di daerahnya dengan berbasis People dan Products; saatnya mereka melanjutkan dengan mengelola Process: proses inovasi dan proses penciptaan nilai; dan juga mengelola Press: memudahkan masyarakat untuk mengakses, mengembangkan, dan membangun jejaring multi-media, sebagai bagian dari ekosistem inovasi daerahnya.

 

Salam inovasi !   

------------------------------------------

*  Sumber:  Dr. Tatang Taufik, Deputi Kepala BPPT Bidang PENGKAJIAN KEBIJAKAN TEKNOLOGI, 

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI (BPPT), Pada Workshop DRN – DRD: “Penguatan Sumberdaya, Kelembagaan, dan Jaringan Iptek Pusat dan Daerah Untuk Peningkatan Daya Saing dan Kemandirian Bangsa”,  Ruang Komisi Utama BPPT, Jakarta, 4 Desember 2013

 


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Sinergi A-B-G: Membangun Model Techno-Center di Indonesia

Setelah melalui serangkaian pertemuan akhir-pekan, pada 21 Mei 2019 dilaksanakan pertemuan pendahulu

Indonesia Innovation Award - 2019

Setiap organisasi bisnis dan organisasi pemerintah harus bisa melakukan adaptasi terhadap perkembang

Universitas Indonesia Memaknai “Open Innovation”

Dalam era “wacana” Open Innovation, Universitas Indonesia (UI) sepertinya ingin menunjuk

INFO: Serangan Cyber ke Web BIC

Setelah berkiprah tanpa gangguan yang berarti selama lebih dari 11 tahun, pada hari Jum’at 12

“100+ Inovasi Indonesia” Menuju Layanan E-Incubator BIC

BIC tengah mengembangkan sistem inkubator bisnis baru yang diharapkan akan dapat  secara efisie