• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

PEMBIAYAAN DAN INDUSTRIALISASI RISET MENUJU INOVASI DI IMERI - OPEN INNOVATION 2018




Jum'at 20 April 2018, BIC diundang oleh  Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) untuk menyampaikan paparan didepan para peserta kompetisi Open Innovation IMERI tahun kedua. Kali ini IMERI meminta BIC untuk menyampaikan paparan tentang "Pembiayaan dan Industrialisasi  Riset menuju Inovasi". Pada acara ini, peserta mendapatkan berbagai paparan tentang konsep dan praktek dalam riset dan inovasi,termasuk aspek-aspek yang terkait dalam komersialisasi hasil penelitian dan inovasi.

Dalam paparannya, Kristanto Santosa (BIC) menyampaikan dua pokok pemikiran di seputar pembiayaan riset dan komersialisasi. Yang pertama adalah tentang fenomena lembah kematian (the valley of death) yang diyakini sebagai suatu kenyataan dan risiko dalam setiap upaya komersialisasi hasil riset.  Kristanto berargumen, bahwa sekalipun risiko kegagalan dalam proses komersialisasi hasil riset ada, namun risiko tersebut dapat banyak dikurangi kalau pihak peneliti dan pebisnis saling memahami bahasa (dan ekspektasi) masing-masing. Dalam kegiatan riset dan inovasi, kita sedang mendorong agar para peneliti menggunakan skala Tingkat Kesiapan Teknologi atau TRL (Technology  Readiness Level) sebagai ukuran kesiapan hasil riset untuk dikomersialisasikan. Padahal pelaku bisnis melihat hal yang sama berdasarkan Tingkat Kesiapan Demand atau DRL (Demand Readiness Level). Postulat dari Dr. Florin Paun mengatakan bahwa kesiapan komersialisasi harus dilihat dari jumlah (level) keduanya yang harus lebih dari 10. Kalau tidak tercapai, diyakini "lembah kematian" akan tetap menganga dan memakan korban lebih banyak.   

Pada pokok yang kedua, dipaparkan tentang bagaimana IMERI dapat berperan strategis dalam inovasi-inovasi kesehatan dan kedokteran di Indonesia. Menurut Kristanto, IMERI yang merupakan bagian dari Fakultas Kedokteran UI, bisa berperan strategis dalam menggalang pembiayaan dan komersialisasi penelitian dan inovasi di Indonesia yang saat ini sangat tertinggal. Dalam kacamata prospek komersialisasi, ketertinggalan ini dapat sekaligus dibilang sebagai prospek komersialisasi yang sangat menjanjikan.   

Salah satu hal yang bisa menjadi terobosan besar dalam inovasi di sektor kesehatan dan kedokteran Indonesia; adalah seandainya dengan dukungan IMERI, (asosiasi) dokter,perumah-sakitan, dan asuransi kesehatan dapat berperan aktif sebagai investor selain tentunya sebagai beneficiaries dari inovasi. Kristanto berpendapat bahwa berbeda dengan kebanyakan sektor industri lainnya dimana"demand" ditentukan oleh konsumen; di sektor kesehatan dan kedokteran, para pembeli atau pasien dalam kebanyakan hal bukanlah sang konsumen. Demand di sektor ini lebih ditentukan oleh para "endorsers",  yang adalah (profesi) Dokter, Rumah Sakit, dan pengelola asuransi kesehatan, termasuk pengelola BPJS Kesehatan.  

 

(KS/25/04/18)


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Proposal Karya Inovasi Indonesia Menembus 5.000!

Tanggal 13 Maret 2019, selain menjadi peringatan ulang tahun BIC ke 11, secara kebetulan juga menand

Ayo Ikut Pemilihan “111 Inovasi Indonesia - 2019”

Setelah terbitan perdana e-book “110 Inovasi Indonesia-2018” (klik: E-Book 110

Innovation Culture@RPE-Day Pertamina Hulu Mahakam

Pada tanggal 12 Januari 2019, Divisi RPE PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) telah mengundang BIC untuk

110 Inovasi Indonesia –TERBIT!

Setelah mengalami keterlambatan lebih dari sebulan, akhirnya “110 Inovasi Indonesia-2018&rdquo

UP-SCALING: Untuk UMKM Jabar Naik Kelas

Salah satu tantangan pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah pemanfaatan bonus demografi kita melalui