• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Nasi Ungu Yang Kaya Senyawa Antioksidan




Tahukah Anda bahwa nasi putih yang sehari-hari kita makan sebenarnya minim kandungan nutrisi-selain karbohidrat? Sudah lama sejak ditemukannya nasi merah yang rendah kandungan indeks glikemiknya, para penderita diabetes beralih dari nasi putih menuju nasi yang lebih menyehatkan. Baru baru ini, sekelompok ilmuwan dari Negeri Tirai Bambu berhasil mengembangkan “nasi ungu” yang tidak hanya bergizi namun juga mengandung banyak antioksidan yang dapat menurunkan resiko penyakit kanker dan kardiovaskular.

Melalui pendekatan rekayasa genetik, para peneliti dari South China Agricultural University berhasil mengembangkan “nasi ungu” yang mengandung banyak senyawa antosianin yang terkenal bersifat antioksidan, dapat menurunkan resiko kanker, penyakit jantung, bahkan diabetes. Tidak hanya itu, senyawa ini juga memberikan karakteristik unik dari nasi yang mirip dengan buah anggur dan bluberi, sehingga memberikan kesan “eye-catching” bagi calon konsumen.

Menurut ketua tim Yao-Guang Liu, percobaan untuk meningkatkan kandungan tertentu dalam nasi ternyata bukan yang pertama, beta-karoten dan folat adalah contoh kandungan bernilai gizi tinggi yang telah diuji coba sebelum antosianin. “Pigmen ungu” sebenarnya banyak terkandung dalam varietas nasi hitam dan merah, namun jumlahnya menjadi minim ketika sekam dan dedaknya dibuang dan hanya menyisakan bagian endospermanya.  

Pendekatan rekayasa genetik sudah dilakukan namun karena jalur biosintesis-nya antosianin yang sangat kompleks, sangat sulit untuk men-transfer banyak gen yang mengekspresikan antosianin ke dalam tumbuhan secara efisien. Untuk memecahkan masalah ini, mereka melakukan “scanning” gen mana yang berkaitan dengan produksi antosianin dari berbagai varietas beras.

Contohnya ialah beras varietas Japonica sp. dan indica sp. yang tidak memproduksi antosianin, tapi para ilmuwan tersebut akhirnya mampu mengisolasi gen yang cacat dan menggantinya dengan gen produktif. Mereka membuat sistem penyusunan transgenetik yang dapat mengekspresikan delapan gen antosianin yang berbeda pada gandum, sehingga beras yang dihasilkan memiliki kandungan antosianin yang tinggi dengan warna yang cerah.

Liu lebih lanjut mengatakan bahwa mereka sukses mengembangkan sistem penyusunan transgenetik yang sangat efisien dan mudah digunakan yang disebut dengan “TransGene Stacking II” yang dapat menyusun sejumlah besar gen dalam vektor tunggal untuk merubah sifat suatu tanamanan. Hal ini pun ditengarai menurutnya merupakan percobaan yang pertama dalam merekayasa suatu sistem metabolik yang rumit pada tanaman.

Selanjutnya, mereka akan melakukan investigasi seberapa aman “nasi ungu” ini dapat dikonsumsi dan apakah teknik rekayasa genetik ini dapat diaplikasikan untuk jenis sereal yang lain atau tidak. Saat ini, para peneliti tersebut mengklaim teknik ini dapat digunakan untuk meningkatkan kadar nutrien dan senyawaan lain dalam berbagai tanaman. (YZH)


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Ayo Ikut Pemilihan “111 Inovasi Indonesia - 2019”

Setelah terbitan perdana e-book “110 Inovasi Indonesia-2018” (klik: E-Book 110

Innovation Culture@RPE-Day Pertamina Hulu Mahakam

Pada tanggal 12 Januari 2019, Divisi RPE PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) telah mengundang BIC untuk

110 Inovasi Indonesia –TERBIT!

Setelah mengalami keterlambatan lebih dari sebulan, akhirnya “110 Inovasi Indonesia-2018&rdquo

UP-SCALING: Untuk UMKM Jabar Naik Kelas

Salah satu tantangan pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah pemanfaatan bonus demografi kita melalui

Inovasi Indonesia 2008-2018: Bagaimana Memanfaatkannya?

Pada tanggal 22 Januari 2019, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (SBM-ITB) telah mengundang BIC untuk