• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

INOVASI JADI INDIKATOR MUTU PERGURUAN TINGGI




Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (RistekDikti) menetapkan mulai tahun 2018, kinerja inovasi akan menjadi indikator penilaian mutu perguruan tinggi (PT). “Belum semua PT dapat mengisi daftar inovasi mereka saat formulir penilaian dibagikan” kata Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristek Dikti, Dr. Patdono Suwignyo, di Tangerang Selatan, Jum’at (17/8/2018).  Ke depan, PT akan diminta mendokumentasikan inovasi mereka.  

BIC sebagai pengelola pemilihan karya inovasi “100+ Inovasi Indonesia” telah lebih dari sepuluh tahun berurusan dengan “pendokumentasian” karya-karya inovasi di Indonesia tentunya menyambut dengan antusias kebijakan yang baru ini. BIC meyakini kebijakan ini merupakan angin segar bagi upaya inovasi di Indonesia, tentunya jika bisa dilaksanakan secara konsekwen dan berkesinambungan.

Inovasi adalah upaya jangka panjang yang perlu dilakukan secara kontinyu dan bisa melewati batas-batas tahun anggaran (pemerintah). Ini yang sering dikeluhkan (atau menjadi alasan) kinerja inovasi PT dan LitBang sampai kini kurang menggembirakan. Pembiayaan penelitian menuju penerapan yang disebut “hilirisasi” inovasi, perlu “multi-years” dan ini dikatakan sulit diajukan.  Peneliti memilih untuk mengajukan topik penelitian baru atau “menyiasati”nya dengan mengajukan topik penelitian lama dengan judul yang baru, agar penelitiannya dapat berlanjut. 

Dalam urusan pendokumentasian karya inovasi, BIC telah mengembangkan suatu sistem database pengelolaan inovasi, yang mencakup proses: promosi, administrasi, dokumentasi, monitoring, review dan feedbacks berlapis dan bermuara pada pemilihan proposal inovasi yang layak untuk ditawarkan / komersialisasi.  Sebaliknya, sistem inovasi BIC juga dapat mengubah status proposal inovasi, agar dihentikan atau dibatalkan pengembangannya (discontinued); seandainya proposal tersebut tidak dinilai prospektif lagi, baik karena perubahan kebutuhan (demand) masyarakat atau perubahan teknologi bahkan tidak jarang juga terbukti sebagai karya plagiat.          

Pendokumentasian berbasis database dan internet, membuat dokumen tidak lagi bersifat statik sebagaimana dibayangkan banyak orang. Dokumen proposal inovasi dalam sistem manajemen inovasi BIC, sekalipun tetap menjaga kerahasiaan dalam proses penelitian, memungkinkan dilakukan secara interaktif. Dokumen akan dapat di “update” perkembangannya di sepanjang proses penelitian dan uji-coba yang dilakukan peneliti.  Peneliti bisa menerima feedback dan review di sepanjang proses inovasi, selain dari segi sains dan teknologi, juga menerima feedback dari sisi demand (pasar) pada saat dilakukan proses seleksi. Dan seluruh proses pengembangan tersebut akan terdokumentasi dalam review logs, yang hanya bisa diakses oleh peneliti dan pengelola database.

Untuk mendukung kebijakan di atas, BIC menawarkan khusus bagi perguruan tinggi (dan LitBang Kementerian) yang bertekad meningkatkan “kinerja inovasi” mereka, untuk memanfaatkan sistem database inovasi BIC. Sistem BIC ini dapat dimiliki secara gratis, dan bisa di “customized” sesuai kebutuhan masing-masing organisasi. Bagi  mereka yang berminat, dapat mempelajari bagaimana sistem manajemen inovasi BIC bekerja, dengan klik disini atau penjelasan dalam animasi dengan narasi suara, dengan klik disini dan pilih nomor 5 untuk melihat videonya. 

Salam inovasi !

(KS 20/08/18)


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Menjajagi Pengembangan STP Masa Depan di BBIA

Pada peringatan 100 tahun Balai Besar Industri Agro (BBIA), 5 September 2019 lalu, Kepala BPPI Kemen

“Virtual” e-Incubator BIC (under-development)

Peserta pemilihan “111 Inovasi Indonesia-2019” pada tahun ini adalah pioneer yang memanf

Technology Transfer Office (TTO) Kunci Utama Agar Riset Indonesia Tak Hanya Masuk kotak

Pada tanggal 15 Agustus 2019, Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, Wakil Direktur Medical Educat

-

-

Technology Transfer Office (TTO) Kunci Utama Agar Riset Indonesia Tak Hanya Masuk kotak

Pada tanggal 15 Agustus 2019, Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, Wakil Direktur Medical Educat