• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

DR. FLORIN PAUN @ GERAKAN SEJUTA PANEL SURYA INDONESIA




Menjelang akhir kunjungan roadshow nya di Indonesia pada awal bulan Desember ini, Dr. Florin Paun mendapatkan undangan dadakan dari para tokoh penggerak energi surya Indonesia, yang tergabung dalam WA GroupGerakan Sejuta Atap Surya”. Asal muasal undangan adalah saat penulis melemparkan wacana di WA Group dengan menyitir pendapat Dr. Florin Paun, bahwa prakarsa mobil listrik nasional kita, jika sumber dayanya berasal dari PLN bisa berubah menjadi “mobil batubara nasional”, karena sebagian besar pembangkitan listrik PLN berasal dari PLTU Batubara.

Akibatnya, efisiensi energi yang diharapkan meningkat melalui penggunaan mobil listrik, jika dilihat secara “end-to-end” justru akan melorot, karena efisiensi energi batubara jauh lebih rendah dibandingkan dengan konversi energi pada mobil motor bakar. Demikian juga dalam soal pencemaran lingkungan; sekalipun dalam kasus di atas kita “berhasil” mengalihkan polusi dari mobil di kota-kota besar menjadi polusi di luar kota, ini tetap memperburuk rapor negara kita dalam soal pencemaran udara global.

Dr. Florin Paun yang mengaku tidak bisa tidur setelah mendiskusikan permasalahan energi dan mobil listrik Indonesia (mungkin akibat jetlag juga setelah terbang puluhan jam dari Perancis), muncul dengan berbagai gagasan inovatif. Pada dasarnya, Dr. Paun berargumen, bahwa kedua masalah tersebut, justru bisa dipecahkan dengan “sekali pukul”, yaitu dengan membangun model pembangkitan listrik tenaga surya (PLTS) terdesentralisasi yang berbasis rumah dan komunitas.  Lebih lanjut, prakarsa PLTS berbasis komunitas bisa dikembangkan untuk memproduksi BBG (methane) dari tangkapan polusi COdireaksikan dengan H2 dari distilasi air laut, dan keseluruhannya dapat memanfaatkan tenaga listrik PLTS. Dr. Paun membuktikan dengan angka-angka “luar kepala”, bahwa prakarsa ini berpotensi sekaligus mencapai dua sasaran SDG sekaligus: energi bersih dan sekaligus berkesinambungan karena terbarukan.

Tentang permasalahan PLTS yang dialami Indonesia yaitu grid listrik nasional yang belum “smart” dan  harga “energy storage” yang sangat mahal, Dr. Paun datang dengan berbagai gagasan teknologi alternatif, termasuk pemakaian kembali battery storage mobil listrik sebagai stationary storage di rumah-rumah yang pastinya sangat murah, atau dengan mengembangkan super-capacitor, atau kinetic storage, yang mestinya mampu dilakukan sendiri oleh para insinyur Indonesia.

Pada akhir diskusi disepakati untuk menjajagi kerjasama dengan Dr. Florin Paun atau pemerintah Perancis, dalam membangun model PLTS di Indonesia; sebagai landasan mencapai target bauran energi terbarukan nasional sebesar 23% pada tahun 2025. Hal ini sekaligus dapat dijadikan sebagai platform pengembangan pasokan energi untuk mendukung program mobil listrik nasional yang  bukan “mobil batubara”.

(KS/26/12/18)

 


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Ayo Ikut Pemilihan “111 Inovasi Indonesia - 2019”

Setelah terbitan perdana e-book “110 Inovasi Indonesia-2018” (klik: E-Book 110

Innovation Culture@RPE-Day Pertamina Hulu Mahakam

Pada tanggal 12 Januari 2019, Divisi RPE PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) telah mengundang BIC untuk

110 Inovasi Indonesia –TERBIT!

Setelah mengalami keterlambatan lebih dari sebulan, akhirnya “110 Inovasi Indonesia-2018&rdquo

UP-SCALING: Untuk UMKM Jabar Naik Kelas

Salah satu tantangan pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah pemanfaatan bonus demografi kita melalui

Inovasi Indonesia 2008-2018: Bagaimana Memanfaatkannya?

Pada tanggal 22 Januari 2019, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (SBM-ITB) telah mengundang BIC untuk