Inovasi Indonesia

Membangun Indonesia melalui Inovasi bersama BIC

Coffee Makes Everything Possible

 
Pada Sabtu 10 Februari 2018 yang lalu, Direktur Eksekutif BIC sempat bertemu dengan salah seorang Jawara Inovasi Indonesia dari Universitas Gajah Mada, yang sangat produktif: Dr. Gede Bayu Suparta.  Bli Bayu adalah inovator yang saat ini sedang bergiat dalam inovasi radiografi, khususnya untuk membuat agar biaya pemeriksaan sinar tembus (X-Ray) di layanan-layanan kesehatan menjadi jauh lebih murah, lebih instant, dan lebih aman, dengan teknologi pencitraan digital. Sementara itu, Dr. Bayu Suparta juga mengembangkan teknologi telemetri untuk mengirimkan citra digital melalui internet. Ini akan membuat layanan diagnosis X-Ray bisa menjangkau kawasan-kawasan pinggiran, tanpa pasien harus pergi ke kota besar seperti sekarang.  Di waktu sengangnya, Bli Bayu juga mengembangkan berbagai inovasi lain, seperti alat deteksi bom yang praktis untuk unit Gegana, merancang pembangkit listrik tenaga surya yang dapat membuat rekening listrik di bengkelnya menjadi nol, dan believe it or not....  Bli Bayu memiliki air mancur bernyanyi di rumahnya dengan lantunan musik Jawa !  Diskusi adalah seputar strategi hilirisasi inovasi radiografi Dr. Bayu Suparta bisa membantu masyarakat dan pemerintah Indonesia dalam mengurangi biaya diagnostik dan memperlebar layanan demi "health for all" .  Diskusi singkat ini terjadi di sebuah coffee shop yang sepertinya kondusif untuk diskusi inovasi: "(Having) Coffee (here) Makes Everything Possible"! 
 
Salam inovasi !
 
(KS/14/02/18)

MENYONGSONG LAHIRNYA UU TENTANG SISTEM NASIONAL IPTEK & INOVASI YANG BARU

Dalam pembahasan tentang pembangunan dan masa depan Indonesia, hampir selalu disebutkan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan inovasi sebagai pendorong pembangunan. Tidak henti-hentinya pula dikatakan, betapa pentingnya kebijakan politik maupun perundang-undangan yang kondusif dan menunjang agar Iptek dapat berperan secara efektif, dan pada gilirannya ikut membangun daya saing dan kemandirian bangsa. Sayangnya, sebagian besar ulasan dan bahasan berhenti pada kesimpulan banyaknya kendala, hambatan, dan ketidak-sinkronan kebijakan, serta peraturan perundang-undangan yang tidak kondusif; dan cukup untuk menjelaskan mengapa Iptek dan inovasi belum berperan sebagaimana kita inginkan.    

Saat ini, sedang berlangsung pembahasan Rancangan Undang-Undang Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (RUU Sisnas Iptek), yang memperbaharui dan memperkuat UU yang sebelumnya (UU Nomor 18 Tahun 2002), dan berpeluang dapat memecahkan berbagai kendala dan hambatan sebagaimana dikeluhkan di atas.

Berbagai wacana disampaikan dalam salah satu Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Pansus RUU Sisnas Iptek DPR-RI, pada tanggal 30 Januari 2018 yang lalu, antara lain: perlunya UU baru yang memungkinkan anggaran Litbang yang lebih besar, perlunya membuat lembaga "super-body" Iptek, dan perlunya menjamin karier para peneliti.  
 
Direktur BIC, Kristanto Santosa, yang diundang menjadi salah seorang narasumber mengusulkan rumusan UU yang menekankan lebih pada memecahkan masalah ekosistem penelitian dan inovasi yang belum kondusif saat ini. Kristanto ingin memastikan agar UU Sisnas Iptek (dan Inovasi) yang baru dapat memecahkan tiga hal pokok saja:  
 
​1. Bagaimana memobilisasi SDM Iptek Indonesia (yang 85% adalah PNS) agar bergairah ​dalam berinovasi?
​2. Bagaimana bentuk kelembagaan yang memungkinkan terjadinya sinergi & interaksi A-B-G dengan leluasa?
3. Bagaimana agar arah dan prioritas inovasi secara nasional selaras mendukung visi dan RJP Pemerintah?
 
Menurut Kristanto, menuntut pemerintah pada saat ini melipat-gandakan anggaran Litbang untuk berinovasi akan sulit, kecuali bila ditunjukkan bahwa "investasi" Litbang memberikan "returns on investments" yang menarik. Kalau penelitian mengkonversi uang menjadi pengetahuan, maka pengembangan menuju aplikasi mestinya justru harus dapat mengkonversi pengetahuan kembali menjadi uang, bukan malahan meminta uang lebih besar lagi. Untuk itu dana pengembangan (inovasi) seharusnya justru digalang dari sektor ekonomi dan komersial. Dan ini bisa terjadi, seandainya Litbang dapat melayani kebutuhan dan aspirasi pelaku ekonomi dan bisnis di Indonesia secara kompetitif. 
 
Lebih lanjut Kristanto berpendapat bahwa UU Sisnas Iptek yang baru lebih penting diarahkan, agar dapat menjamin pemberdayaan dan otonomi para peneliti Litbang maupun Lembaga Litbangnya, dengan prinsip "Lex specialis derogat legi generali" . Maksudnya, memungkinkan penerapan hukum dan peraturan yang bersifat khusus (lex specialis) dan dapat mengesampingkan hukum yang bersifat umum (lex generalis). Sebagai contoh, misalnya bagaimana peneliti yang PNS dan lembaganya diperbolehkan bermitra dengan bisnis dengan leluasa, atau adanya otonomi dan fleksibilitas dalam pengelolaan kegiatan, anggaran dan sarana Litbang Pemerintah, atau keleluasaan dalam menerima dan mengelola dana dan sarana Litbang yang bersumber dari mitra bisnis / swasta. 
  
(08/01/18)

INOVASI PEMUDA TASIK

 
BIC mendapat undangan untuk menghadiri Lokakarya "Global Insight for Tasikmalaya" yang diselenggarakan oleh "Abaloq", suatu organisasi untuk pengembangan inovasi dan kewirausahaan untuk generasi muda Tasikmalaya. Motor penggeraknya adalah seorang alumni returnee Jerman, Hari Ramdhani, yang pernah menjadi intermediator di BIC dengan dukungan dari Centrum für internationale Migration und Entwicklung (CIM), GIZ. Prakarsa Abaloq ini didasari oleh pemikiran bahwa generasi muda Tasikmalaya perlu disiapkan untuk menyambut era "bonus demografi" yang akan dinikmati Indonesia pada dekade mendatang. Pada saat yang sama Hari Ramdhani melihat bahwa bonus demografi akan membawa berkah bagi Indonesia, jika lebih banyak generasi muda Tasik bercita-cita atau berkiprah menjadi wirausahawan ketimbang menjadi pegawai. Dengan demikian mereka menjadi pencipta kerja, bukan pencari kerja. 
 
BIC memenuhi permintaan panitia Lokakarya untuk menyampaikan pandangannya tentang "Future Business Model", dengan mengajukan tiga proposisi: (a) Pentingnya berpikir global tapi bertindak lokal (Think Globally, Act Locally), (b) Melihat bisnis sebagai suatu sistem yang dinamis, dan sebagai suatu rantai pasok (supply chain),  dan (c) Mengembangkan bisnis di kawasan "blue ocean", bukan "red ocean" dengan bereksperimen menggunakan pendekatan business canvas.  Setelah Lokakarya, dilakukan kunjungan ke Rumah Kreatif Abaloq, yang didukung oleh Bank Rakyat Indonesia. 
 
  
Pada malam harinya, undangan makan malam diadakan di saung Udang Galah milik Pak Endang, sekaligus menjadi peluang untuk mendengarkan update cerita dari Pak Endang, yang adalah seorang pioneer dalam budidaya udang galah di Indonesia. (KS/211217)
 

 

Penutupan Entrepreneurship Bootcamps

Hari terakhir pelaksanaan Bootcamps diisi dengan serangkaian presentasi bisnis (pitching) dari seluruh peserta yang hadir. Masing-masing peserta menyampaikan ide startup-nya selama 10 menit sebelum dilanjutkan dengan 5 menit tanya jawab oleh fasilitator. Di sesi terakhir, program Bootcamps ditutup dengan pembagian sertifikat kepada masing-masing peserta diikuti dengan foto bersama.

  

 

 

Entrepreneurship Bootcamps Hari ke 4 : Dua Jawara Entrepreneurship Indonesia Hadir untuk Berbagi

Dr. Agung Budi Waluyo dari Ciputra Entrepreneurship Center

Di hari keempat pelaksanaan program Entrepreneurship Bootcamps oleh GIZ (Sabtu, 25 November 2017), peserta mendapatkan kesempatan untuk mendengar dan menimba ilmu dari narasumber tamu yang sudah berpengalaman di dunia bisnis dan start-up. Mereka adalah Dr. Agung Bayu Waluyo (Ciputra Entrepreneurship Center) dan Muhammad Maulana (Uno Capital) yang berbagi ilmu dan pengalaman tentang membangun start-up selama kurang lebih 3 jam.

Di sesi pertama, Dr. Agung Bayu Waluyo menyampaikan 3 hal yang dibutuhkan oleh seorang pebisnis sukses, yaitu penciptaan peluang, kemampuan berinovasi, dan keberanian mewujudkan gagasan. Dalam hal inovasi, bisnis haruslah sebuah solusi atas suatu masalah yang terjadi, atau sebuah pain reliever dari masalah yang dirasakan konsumen di lapangan. Namun, Dr. Agung mengingatkan untuk tetap berhati-hati dalam melihat suatu masalah, beliau mengatakan  “Apa yang kita pikirkan masalah, bisa jadi bukanlah masalah bagi orang lain, maka itulah pentingnya market analysis; menentukan siapa sebenarnya customer dari bisnis Anda”

Pada sesi kedua, Muhammad Maulana memberikan sudut pandang lain tentang memulai sebuah start-up. Dia menjelaskan pentingnya rasa eagerness  (keinginan), dan hungriness (rasa lapar), yang akan terus mendorong seseorang untuk gigih dalam menghadapi tantangan.  Diawal menyusun business model canvas, setiap start-up akan menghadapi masa-masa sulit, yang secara perlahan akan terasa mudah seiring dengan bertambahnya pengalaman dan “jam terbang”. “Failure is part of business” terang Maulana ditengah-tengah penjelasan.

Di akhir, Maulana juga menyampaikan beberapa tips yang cukup berkesan bagi para peserta; focus on your goal, read great books, grow spiritually, stay low-key, drink water, meditate, dan workout. Dengan berakhirnya sesi sharing, berakhir pula kegiatan BID 2.0 hari ke-4, sebelum ditutup oleh materi pengayaan tentang business plan, yang disampaikan oleh Kristanto Santosa.  

Entrepreneurship Bootcamp : Business Idea for Development 2.0


GIZ adalah lembaga 
kerjasama internasional untuk pembangunan berkelanjutan, yang telah aktif di Indonesia sejak tahun 1975 dibawah naungan German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development(BMZ).  

CIM (Centrum für internationale Migration und Entwicklung), adalah lembaga dari pemerintah Jerman yang mendukung para alumni Jerman agar dapat mengamalkan pengetahuannya di kampung halamannya masing-masing dengan optimal. Untuk itu, CIM dengan dukungan dari GIZ (The Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) menyelenggarakan program Entrepreneurship Bootcamps bertajuk “Business Idea for Development 2.0”. Sejumlah 15 returnees dengan membawa ide business start-ups mereka masing-masing, telah terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, untuk mengikuti Bootcamps.  Mereka di "karantina" selama 5 hari (22 – 26 November 2017), di DoubleTree Hotel, Jakarta

Pada kesempatan ini, Kristanto Santosa dan Yudhi Hermanu dari Business Innovation Center (BIC), dipercaya oleh GIZ menjadi fasilitator bootcamps, untuk memberikan pelatihan mengenai dunia start-up, dimulai dari pengembangan business model, financial & cost management, hingga human capital management. Dari BID seri ke-2 ini, diharapkan lahirnya start-up - start-up baru yang dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial dan ekonomi di Indonesia.

 

WAYANGAN BIC : “109 Inovasi Indonesia – 2017” in the making ………

Setiap warga BIC mengenal istilah “Wayangan”, yaitu kegiatan BIC setiap tahun untuk melahirkan serial terbitan “100+ Inovasi Indonesia”.  Kegiatan ini disebut wayangan karena kegiatan ini adalah pekerjaan “overtime” selama beberapa hari berturut-turut, tidak jarang sampai tengah malam, seperti halnya tontonan wayang kulit.  Team penerbitan BIC: copywriter, editor, graphic artist dan reviewers akan bersama-sama memelototi isi buku halaman-per halaman, untuk memastikan tampilan setiap karya inovasi terpilih dibuat dengan akurat, termasuk mempertimbangkan revisi-revisi dari para innovator terpilih.

Edisi wayangan tahun ini merupakan acara wayangan yang khusus, karena “109 Inovasi Indonesia – 2017” adalah edisi “100+ Inovasi Indonesia” yang ke 10, dan dalam proses menembus rekor publikasi 1.045 karya inovasi dalam 10 tahun sejak 2008. Edisi ini akan menjadi edisi cetak buku yang terakhir, karena  sementara itu, BIC saat ini sedangan menyiapkan edisi digital publikasi “100+ Inovasi Indonesia” melalui situs: http://bicnets.com  . Silakan mampir ….. 

Pada menit ini…, sedang dilahirkan artwork dari karya inovasi BIC yang ke 1.000, sehingga masih ada 45 lagi karya inovasi yang menunggu naik panggung wayangan BIC. 

109 Inovasi Indonesia – 2017” ditargetkan terbit pada Desember 2017.  Tetap semangat !!

Salam inovasi!

Hubungi Kami

PQM Building, Ground Floor,
Cempaka Putih Tengah 17C no. 7a, Jakarta 10510, Indonesia.

 
  • Telepon:
    (+62) 21 4288 5430
  • (+62) 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • (+62) 8118 242 462 (BIC-INA)
  • Fax:
    (0) 21 2147 2655

Senin - Jum'at: pk. 9.00 - 16.30

Kami ada di Jejaring Sosial. Ikuti kami & terus berhubungan.
Anda berada di: Utama Kategori Indonesia