• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Tech Transfer Office: Agar Riset Indonesia Tak Hanya Masuk Kotak



Pada tanggal 15 Agustus 2019, Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, Wakil Direktur Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) mengatakan atau lebih dikenal dengan Prof. Iko, “Secara umum, saat ini terjadi kesenjangan atau gap antara penelitian translasional dengan terapan sehingga sangat diperlukan dukungan yang kuat dari pihak industri agar mampu memberikan perubahan yang signifikan sesuai kebutuhan masyarakat. Menurut Prof. Iko, hampir semua universitas terkemuka di dunia telah menaruh perhatian besar terhadap TTO, salah satu contohnya yaitu Association University Technology Managers (AUTM). Organisasi ini bertugas untuk mengkoordinir semua TTO yang terdapat di Universitas Amerika Serikat. Sejak tahun 1996 sampai 2015 AUTM telah mendorong 380.000 invensi dengan 80.000 di antaranya telah mendapatkan paten. Artinya, dalam 19 tahun hanya 20 persen invensi yang berujung mendapatkan hak paten dan memiliki potensi ke ranah komersialisasi. TTO sebagai corong komunikasi, endoser, perencanaan gambaran bisnis dan negosiator mengharuskan TTO officer wajib memiliki kemampuan ulung untuk mendeteksi peluang bisnis dan potensi pasar dari sebuah aktifitas riset. Selain itu, dalam press conference yang di adakan di Hongkong Cafe, Thamrin. Prof. Iko sangat berharap bahwa Universitas Indonesia dapat berperan sebagai Research dan Development – nya dunia industri sehingga akan mendorong percepatan komersialisasi produk riset. Technology push, market pull agar permintaan dari masyarakat atas kebutuhan teknologi ataupun sebaliknya dapat menjadi sesuatu yang fleksibel dan terus dikembangkan.

Pada kesempatan yang sama , Ir. Kristanto Santosa, MscM, IPM selaku Direktur Eksekutif Business Innovation Center (BIC) berpendapat bahwa jika TTO ingin berjalan maka akademisi, industry/business dan pemerintah harus berjalan selaras dengan mengambil kebijakan pemerintah dengan mengandalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak(PNBP). Sehingga diharapkan dengan adanya perputaran dari Knowledge menjadi Commercial dan sebaliknya TTO menjadi efektif dan efisien dengam harapan dan hasil bahwa hal ini dapat membuat para peneliti tidak bergantung pada pemerintah. Dengan kesamaan pandangan ini, BIC menyakatan dukungannya atas apa yang di harapkan Prof. Iko, dimana Universitas Indonesia berperan sebagai incubator untuk para peneliti di Indonesia sehingga Technology Transfer Office tak hanya masuk kotak tetapi dapat dilakukan secara menyeluruh sehingga kesuksesan ini dapat menjadi acuan untuk perkembangan Indonesia dan Universitas Indonesia dapat menjadi contoh bagi universitas maupun lembaga penelitian lainya. Salam Inovasi!

(TFA/160819)


Komentar

AlpinDec 09,2019

TTO seharusnya bukan cuma ada di Jakarta , harus ada kebijakan dan subsidi dari Pemerintah mendukung TTO swasta maupun PMA , baik di setiap kota provinsi mau kabupaten , tergantung Market dan Resource di daerah tsb.

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Raihlah 112 Peluang Menjadi "Bagian" dari Kebangkitan Teknologi dan Inovasi Nasional !

BIC kembali mengundang inovator Indonesia ikut pada pemilihan "112 Inovasi Indonesia-2020"

Webinar Jababeka PEC: Lompatan Inovasi Jauh Ke Depan

Pada tanggal 10 Juli 2020 yang lalu, BIC diundang sebagai narasumber Webinar dengan tema: "Mema

Entrepreneurship Mentoring bagi Finalis BID 4.0 GIZ

Setelah untuk tiga tahun berturut-turut BIC memperoleh kepercayaan dari GIZ (The Deutsche Gesellscha

GIMI Webinar: Global Value Chain in a Changing World

Pandemi Global Covid-19 yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir; selain menimbulkan krisis ke

Membangun Ekosistem Inovasi: Soal Peran "Pemain Tengah"

Webinar Katadata, pada 22 Juni 2020, mengangkat tema "Diskusi Kebijakan Penanggulangan Covid-19