• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Mengubah Emisi Karbon Dioksida Menjadi Bahan Bakar dengan "Fotosintesis Buatan"



Ide mengenai fotosintesis buatan sebagai teknologi energi terbarukan menarik banyak ilmuwan belakangan ini. Jika selama ini kita mengenal daun yang secara alami dapat mengubah gas rumah kaca atau CO2 menjadi karbohidrat dengan bantuan sinar matahari, maka para ilmuwan selama beberapa dekade ke belakang telah mencoba meniru proses fotosintesis tersebut dengan mengembangkan teknologi “artificial photosyntesis”, namun untuk menghasilkan bahan bakar cair. Temuan ini berpotensi memecahkan masalah utama penggunaan energi matahari dan energi yang tidak tersedia sepanjang waktu.

Selama beberapa tahun, banyak ilmuwan telah berkontribusi bagi pengembangan teknologi fotosintesis buatan ini – dengan membuat katalis yang diaktivasi oleh cahaya matahari yang dapat memecah molekul air menjadi gas oksigen dan hidrogen.  Senyawa hidrogen inilah yang digunakan untuk mereduksi gas karbon dioksida (CO2) menjadi senyawan hidrokarbon. Seperti daun aslinya, teknologi ini hanya menggunakan CO2, air, dan cahaya matahari untuk menghasilkan bahan bakar.

Suatu grup peneliti yang dipimpin oleh Daniel G. Nocera dan Pamela Silver  dari Harvard University telah melakukan penelitian yang menggabungkan “pemecahan air” dan “konversi gas karbon dioksida” dalam satu sistem dengan efisiensi yang tinggi pada Juni 2016. Mereka melakukan suatu pendekatan untuk membuat bahan bakar cair (seperti alkohol) yang hasilnya jauh melampaui konversi yang dapat dilakukan daun di alam untuk mengubah CO2 menjadi karbohidrat.  Jika satu tumbuhan menggunakan hanya 1 persen dari energi matahari untuk membuat glukosa, sedangkan sistem buatan ini mampu mencapai efisiensi kurang lebih 10 persen dalam merubah CO2 menjadi liquid fuel, atau setara dengan menghisap 180 gram gas CO2 dari udara per kwh listrik yang dihasilkan.

Nocera dan tim menggabungkan material anorganik yang biokompatibel dan ramah lingkungan sebagai katalis utama pemecahan air (dengan bantuan sinar matahari) dengan mikroba yang direkayasa secara khusus untuk menghasilkan bahan bakar  dalam satu sistem. Tercatat, bakteri-bakteri yang direkayasa secara metabolik ini menghasilkan berbagai variasi bahan bakar dan produk kimia bahkan dalam konsentrasi CO2 yang cukup kecil. Teknologi ini siap untuk di produksi dalam skala yang lebih besar mengingat katalis yang digunakan berasal dari logam yang murah dan mudah didapatkan. Namun para peneliti ini masih perlu untuk meningkatkan efisiensi produksi bahan bakar secara signifikan. Nocera mengatakan bahwa timnya sedang  merancang prototype-nya  dan berdiskusi dengan beberapa perusahaan sebagai calon investor.  

Penemuan ini dapat dikatakan terobosan yang revolusioner, pasalnya dapat memungkinkan ilmuwan di masa yang akan datang membuat teknologi yang bisa merubah emisi kendaraan CO2 menjadi bahan bakar kembali, bukannya menambah gas rumahkaca di atmosfer. (YZH)

--

(sumber : Scientific American)


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

Raihlah 112 Peluang Menjadi "Bagian" dari Kebangkitan Teknologi dan Inovasi Nasional !

BIC kembali mengundang inovator Indonesia ikut pada pemilihan "112 Inovasi Indonesia-2020"

Webinar Jababeka PEC: Lompatan Inovasi Jauh Ke Depan

Pada tanggal 10 Juli 2020 yang lalu, BIC diundang sebagai narasumber Webinar dengan tema: "Mema

Entrepreneurship Mentoring bagi Finalis BID 4.0 GIZ

Setelah untuk tiga tahun berturut-turut BIC memperoleh kepercayaan dari GIZ (The Deutsche Gesellscha

GIMI Webinar: Global Value Chain in a Changing World

Pandemi Global Covid-19 yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir; selain menimbulkan krisis ke

Membangun Ekosistem Inovasi: Soal Peran "Pemain Tengah"

Webinar Katadata, pada 22 Juni 2020, mengangkat tema "Diskusi Kebijakan Penanggulangan Covid-19