• +6221 4288 5430
  • +62 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • +62 8118 242 462 (BIC-INA)
  • info@bic.web.id

Membangun Ekosistem Inovasi: Soal Peran "Pemain Tengah"



Webinar Katadata, pada 22 Juni 2020, mengangkat tema "Diskusi Kebijakan Penanggulangan Covid-19 Berbasis Pengetahuan dan Inovasi", yang mengulas soal kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem inovasi. Dr. Dewi Fortuna Anwar (LIPI) dalam pengantarnya menekankan perlunya dukungan pada kapasitas negara untuk membangun ekosistem pengetahuan dan inovasi. Dengan adanya dukungan kebijakan dan regulasi, diharapkan tercipta sinergi antar komponen inovasi untuk memobilisasi pengetahuan dan inovasi dari sumber (litbang) menuju pemakai (industri). Lebih lanjut Dr. Dewi Fortuna Anwar berpendapat bahwa kebijakan pemerintah dalam pengetahuan dan inovasi posisinya nanggung bermain di tengah dengan pendanaan yang terbatas pula; tidak cukup ke hulu untuk memobilisasi sumber daya litbangnya dan membuat terobosan pengetahuan dan inovasi; sebaliknya juga tidak cukup ke hilir agar industri terdorong memakainya. Sebagai akibatnya, sebagian besar karya inovasi akhirnya harus terjerumus di lembah kematian (valley of death) di tengahnya

Dalam tanggapannya Menristek/Ka. BRIN Dr. Bambang Brodjonegoro mengamini soal masalah di "tengah" namun dari perspektif lain. Menristek berpendapat bahwa hal ini justru menunjukkan lemahnya kebijakan pemerintah sebagai "pemain tengah". Untuk itu Kementerian Ristek / BRIN akan terus mendorong litbang pemerintah agar lebih progresif, dan "risk-taking" dalam upaya menghilirkan inovasi. Kebijakan pendanaan inovasi yang bersumber dari endowment funds juga akan didorong, sehingga litbang terbebas dari ketergantungan pada anggaran pemerintah yang birokratis. Di sisi lain, pihak swasta juga akan diundang mendanai inovasi nasional, agar mereka tidak mengambil "jalan gampang" membeli sumber inovasi / lisensi dari luar negeri. Menristek / Ka BRIN menegaskan bahwa jalan gampang tidak cukup untuk membangun daya saing bisnis / ekonomi Indonesia ke depan; sebagaimana telah dibuktikan oleh negara-negara paling inovatif di dunia, seperti Swedia, Jepang atau Korea Selatan.
 
Diskusi ini mengingatkan kita pada sepak-bola, yaitu soal peran pemain tengah atau midfielder. Pemain tengah berperan sangat strategis dan multi peran. Pemain tengah dalam sepak-bola bertugas sebagai penyeimbang dalam penyerangan maupun bertahan, bisa sebagai penghubung  (intermediator),  sebagai pengumpan untuk mencetak gol, tapi juga membuat manuver untuk mengacaukan lawan saat posisi bertahan. Sepertinya inilah seharusnya peran pemerintah sebagai pemain tengah, dalam upaya menggerakkan inovasi nasional yang dimaksud Menristek.   

Pentingnya peran pemerintah sebagai pemain tengah dalam upaya menggerakkan inovasi sebenarnya telah disadari dan diupayakan melalui berbagai cara sejak dahulu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang lahir pada 1978, barangkali merupakan bentuk pemain tengah inovasi Indonesia yang pertama. Selanjutnya melalui UU  Sisnas Iptek 18 / 2002  dilahirkanlah lembaga bernama Sentra HKI  yang "ditanamkan" di berbagai litbang dan universitas,  yang masih ada, namun kurang berperanan sebagai pemain tengah. Dibentuknya Business Technology Centers (BTC)  sebagai Technology Transfer Offices (TTO), dan Business Innovation Center (BIC)  pada tahun 2008;  juga diharapkan menjadi pemain tengah dengan nama intermediator inovasi. Yang terakhir adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dilahirkan melalui UU Sisnas Iptek pada tahun 2019, dan sepertinya diharapkan menjadi "pemain tengah" yang “powerful”.  Yang menarik juga adalah keterkaitan antara peran "pemain tengah" inovasi dengan kata "entrepreneur", yang konon berasal dari dua kata "entre" dan "prendre" yang artinya “di antara para pihak untuk memulai sesuatu” (between parties to begin something). 

Setelah cukup lama Indonesia berupaya membangun ekosistem inovasi yang efektif, semoga kita berhasil menemukan "pemain tengah" yang hebat. Tentu diperlukan upaya “all-out”, keberanian mencoba, dan mengambil risiko, sesuai peran pemain tengah  sebagai "entrepreneur". Webinar yang berbobot dan penuh dengan wacana progresif serta inovatif ini berlangsung selama dua jam, juga menghadirkan narasumber Menteri PAN/RB Tjahjo Kumolo, serta pakar inovasi  Dr. Yanuar Nugroho; dengan kata pengantar dari Wakil Duta Besar Australia H.E. Allaster Cox.  Silakan tonton webinar selengkapnya di: https://www.youtube.com/watch?v=2LZ-3pg8EaA

Salam inovasi !


(KS24/06/20) 
 


Komentar

Belum ada komentar

Tinggalkan Pesan

Berita Terbaru

New Innovation Paradigm: Sky is No :Longer a Limit !

Pandemi Covid-19 sekalipun telah mengakibatkan krisis kemanusiaan secara global, ternyata juga telah

81 Challengers lolos ke Pemilihan "112 Inovasi Indonesia - 2020"

Sampai 14 September 2020, saat berita ini diturunkan,  jumlah proposal yang tercatat di databas

Salam Inovasi untuk IPB University !

IPB University (d/h Institut Pertanian Bogor) di tahun 2020 ini mengalami peningkatan prestasi yang

Terimakasih Inovator Indonesia !

Pandemi Covid-19 yang kian mengancam kesehatan semua orang serta menjerumuskan ekonomi global ke dal

Entrepreneurship Mentoring bagi Finalis BID 4.0 GIZ

Setelah untuk tiga tahun berturut-turut BIC memperoleh kepercayaan dari GIZ (The Deutsche Gesellscha