Inovasi Indonesia

Membangun Indonesia melalui Inovasi bersama BIC

Berita dari Aceh

 
Berita bahagia datang lagi menghampiri warga BIC, sebab salah satu alumninya yang kini bekerja untuk Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Aissa Mutiara Putri, melepas masa lajangnya pada Ahad (7/1/2018) di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Aissa menikah dengan Bintang, seorang jejaka asal Tanah Minang yang ia kenal sejak setahun silam. 
 
Aissa sendiri ialah seorang alumni Jerman, yang ikut dalam program CIM Returnee, dan kemudian bergabung dengan BIC pada tahun 2015. Acara pernikahan yang dilangsungkan dengan adat Aceh ini berlangsung cukup meriah, terutama dengan kehadiran banyak alumni Jerman yang merupakan teman-teman Aissa sewaktu di Jerman. Bapak Kristanto Santosa (BIC) turut hadir atas undangan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. "Semoga Aissa dan Suami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah" ujar rekan Aissa, Irma (34), yang belum sempat menghadiri resepsi pernikahan. 
 
Pada kesempatan yang berbeda, Bapak Kristanto yang saat ini membantu program pengembangan klaster inovasi nilam di Aceh, sempat bertemu secara informal dengan pimpinan Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syah Kuala, yang juga koordinator dari pengembangan  klaster inovasi Nilam Aceh. 
 
 
 
 
 

2018: Tahun Awal suatu Era Baru*

Seabad yang lalu, kebanyakan warga Amerika hidup seperti kebanyakan manusia di jaman kuno. Sebagaimana dikatakan Robert Gordon dalam “The Rise and Fall of American Growth”, tidak banyak dari mereka punya tempat cuci di dalam rumah, atau listrik, atau punya mobil. Urusan sehari-hari mereka dalam menyiapkan makan atau mencuci pakaian adalah menyiapkan kayu bakar atau mengangkut air yang melelahkan. Mulai era 1920an berbagai hal mulai berubah, saat listrik dan peralatannya melengkapi rumah tangga, infrastruktur berkembang, dan toko-toko eceran merebak dan membuat perubahan besar dalam pola hidup rumah tangga. Pekerja pabrik pun bisa bekerja lembur dan bekerja di shift malam, kehidupan kota, dan bangkitnya wanita pekerja. Ini merupakan revolusi kehidupan yang dahsyat, bahkan lebih besar dibanding revolusi digital yang kita alami beberapa dekade berselang.  

Padahal sebenarnya, di awal tahun 2018 ini, dunia sedang memasuki era baru seperti yang dialami Amerika seabad lalu.  Kita sedang di persimpangan menuju perubahan maha besar dalam berbagai hal sekaligus: cara kita “berkomputer”, cara kita memproduksi barang dan jasa, dan secara umum, bagaimana kita menggerakkan perekonomian.  Berbagai “gelombang besar” teknologi kini sudah nampak di“ufuk timur”, dan akan menjadi penentu kehidupan manusia pada dekade 2020an. Jika kita ingin “survive” di masa mendatang, kita juga harus terjun ke dalam gelombang-gelombang besar ini sekarang.   

Dunia Pasca “Moore’s Law” 

Lebih dari lima dekade, dunia teknologi mengamini hukum “Moore” (Gordon Moore adalah salah seorang pendiri Fairchild Semiconductor & Intel), yang menyatakan bahwa setiap tahun akan terjadi pelipatan kemampuan dalam memasukkan jumlah prosesor komputer ke dalam silicon chips, pelipat-gandaan kemampuan komputer, dan selanjutnya terjadi berbagai revolusi dari aplikasi komputer, dan pada gilirannya menghasilkan lompatan-lompatan dalam produk, jasa, pasar dan perekonomian.  Inilah yang melahirkan para entrepreneur berbasis teknologi, yang mengambil-alih posisi para entrepreneur industri di era sebelumnya.

Namun, kita perlu mencermati bahwa era “Moore’s Law” sepertinya akan usai, karena dasar dalam persaingan dunia kita sedang bergeser dari aplikasi teknologi, kembali ke upaya-upaya memperbaiki teknologi yang sudah ada.  Yang paling mendasar adalah upaya-upaya untuk berinovasi (memperoleh nilai tambah lebih besar) dari berbagai teknologi yang telah ada.   

Sebagai contoh, Google dan Microsoft telah mulai membuat chips mereka sendiri, yang ditujukan untuk mengoptimalkan proyek-proyek kecerdasan buatan mereka. Sepertinya mereka sedang merintis terobosan-terobosan untuk menuju ke arsitektur komputasi yang secara fundamental baru sama sekali, misalnya pengembangan komputasi “quantum” atau “neuromorphic”. 

Berbagai perusahaan pelopor inovasi lainnya, seperti IBM atau Intel, bahkan bisnis pemula seperti Rigetti dan D-Wave telah menggelontorkan milyaran dollar untuk hal ini, dan sepertinya beberapa akan dikomersialkan menjelang dekade 2020 mendatang. Berbagai pelaku industri dunia yang inovatif sudah meneken kontrak dengan mereka. Teknologi-teknologi inovatif seperti di atas, selain akan menjadi gelombang yang besar yang menyapu para pelaku ekonomi yang tidak ikut berubah, juga diperkirakan akan menawarkan dunia dan kehidupan yang berbeda, penuh kejutan; sekalipun barangkali memerlukan waktu setidaknya satu dekade, untuk menjadi bagian dari kehidupan yang “baru”.  

Revolusi Energi 

Sejak Jimmy Carter memasang sebuah panel surya di Gedung Putih pada tahun 1979, energi terbarukan diangkat menjadi issue politik global. Para pegiat lingkungan terus mendorong digunakannya energi surya dan energy bayu demi “menyelamatkan” dunia. Mereka yang skeptic menganggap wacana tersebut sebagai beban tambahan bagi perekonomian, yang hanya disukai oleh para “pemimpi” lingkungan.

Hari ini, kita berada di persimpangan jalan menuju energy terbarukan. Biaya energi terbarukan dengan drastis terus turun, dan diperkirakan dalam dekade mendatang akan menjadi lebih murah dibandingkan energi “fossil” yang selain mencemari, juga akan bakal habis. Diperkirakan pada 2022, mobil-mobil listrik akan menjadi lebih murah dibandingkan mobil konvensional (BBM). Kita sedang memasuki era, dimana para ekonom dan pegiat lingkungan berjalan seiring dan searah.  Memang masih tersisa tantangan teknologi dalam baterai penyimpan energi, dimana teknologi yang kita sudah kenal sepertinya telah mendekati batas teoritis untuk dikembangkan kapasitasnya. Untungnya, berbagai riset besar-besaran untuk menemukan teknologi baterai baru sepertinya telah mulai menampakkan terobosan-terobosan. Salah satunya adalah dari Joint Center for Energy Storage Research (JCESR), Argonne National Laboratory di Amerika Serikat.

Dari Bits Menuju Ke Atom 

Sekalipun inovasi di era awal abad lalu telah mengubah praktis semua segi kehidupan manusia, namun kualitas kehidupan manusia pada awalnya belum berubah banyak. Harapan hidup manusia masih berkisar di angka 50 tahunan, manusia yang meninggal karena infeksi masih tinggi karena antibiotic belum ditemukan.  Pada era pasca Perang Dunia II di awal 1950an, barulah transformasi dari inovasi dunia menunjukkan hasil bagi masyarakat luas. Selain usia harapan hidup yang bertambah secara signifikan; toilet di dalam rumah, mobil, TV, dan telepon hadir di kehidupan rumah tangga umumnya.

Setelah itu, revolusi inovasi digital sebenarnya tidak terlalu berdampak pada kualitas kehidupan masyarakat. Produktivitas ekonomi tidak berkembang terlalu besar, dan angka harapan hidup manusia juga tidak lagi meningkat banyak sejak tahun 1970an. 

Masa depan sepertinya akan menjadi lebih cerah di era dekade 2020 mendatang, dengan akan segera lahirnya berbagai teknologi terobosan, yang akan mendorong berbagai inovasi beralih dari “bits” kembali ke “atom”.  Teknologi dalam “material science” sepertinya akan merevolusikan cara kita membuat barang, sementara itu inovasi teknologi “genomic” dalam kesehatan, juga akan merevolusikan kesehatan; dimana penyakit-penyakit seperti kanker dan hemofilia akan bisa disembuhkan. Arsitektur baru komputasi, menjadi murahnya energi (terbarukan) dan berbagai kemajuan dalam kecerdasan buatan pada dekade 2020 mendatang, diyakini akan membawa lompatan baru bagi kehidupan manusia.  

Selamat dari Terkaman Perubahan 

Kalau kita menengok ke belakang kita melihat perusahaan-perusahaan hebat datang dan pergi. Di awal Millennium 2000, General Electric (GE) adalah perusahaan paling bernilai di se antero jagad. Hari ini GE tidak ada lagi bahkan di daftar perusahaan Top 50; dan pada saat yang sama, lima dari sepuluh besar perusahaan dunia: Alphabet, Amazon, Facebook, Tencent dan Alibaba adalah cuma perusahaan pemula, atau bahkan belum lahir. Jika trend sejarah berlanjut, bisa jadi sepuluh besar perusahaan dunia nanti di tahun 2028 adalah nama-nama yang kita belum pernah mendengar sekarang. Usia “harapan hidup” perusahaan-perusahaan hebat dalam daftar S&P 500 menunjukkan trend semakin pendek, dan menurut prediksi “Innosight”, 75% dari perusahaan di daftar S&P 500 akan digantikan dengan nama-nama baru. Sekalipun kita tahu sketsa masa depan di atas, mustahil untuk kita bisa mengerti implikasinya bagi kehidupan. Kalau kita tengok aplikasi-aplikasi di smartphone kita, sebagian besar pasti belum ada dalam radar pemikiran kita sepuluh tahun yang lalu.  

Agar selamat, ketimbang berupaya meramalkan masa depan, lebih baik kita berupaya terus-menerus menjajaginya, dengan berdialog dengan pihak lain, bereksperimen dengan inovasi baru, teknologi baru, dan model bisnis baru; sehingga kita tetap waspada dan terhindar dari terkaman perubahan jaman. 

Sama sejak seratus tahun lalu, inovasi saat ini juga merupakan hasil sinergi di antara simpul-simpul dan jejaring teknologi / inovasi baru. Perubahan besar dunia tidak datang dari “satu” invensi besar, tapi merupakan sinergi dan integrasi dari beberapa invensi besar. Jadi sekalipun dampak dari teknologi baru mungkin tidak langsung berdampak bagi kehidupan kita esok hari, kita mesti mengikuti setiap perubahannya, hari ini dan setiap hari. 

Mereka yang selamat lolos dari terkaman perubahan tidak beradaptasi pada perubahan, mereka mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Selamat Tahun Baru 2018 & Salam Inovasi !

* Saduran bebas dari:

Greg Satell “Mapping Innovation”  

@Digitaltonto, DEC 16, 2017

 

AKHIRNYA ...... "109 INOVASI INDONESIA - 2017" LAHIR

Setelah melalui beberapa kali acara "wayangan" , akhirnya "109 Inovasi Indonesia - 2017" serial tahunan ke sepuluh dari buku "100+ Inovasi Indonesia" lahir pada waktunya, yaitu pada penghujung tahun 2017.  Terbitan pada tahun ini merupakan perjuangan tersendiri, karena "109 Inovasi Indonesia - 2017"  sebagai terbitan satu dasawarsa BIC, sarat dengan berbagai beban dan pesan; sebelum terbitan ini bertransformasi menuju terbitan digital di masa mendatang. 
 
Selain mengucapkan terimakasih kepada para inovator, para juri, para pembawa pengantar buku maupun berbagai wacana inovasi Indonesia, juga kepada para pendukung dan sponsor penerbitan; tak lupa BIC menyampaikan penghargaan pada tim penerbitan buku yang bekerja di belakang layar; baik untuk menyiapkan acara "wayangan" berkali-kali, mengelola database artwork, copywriting"Googling"; beserta seluruh kebutuhan coffee breaks, snack pagi, makan siang, dan juga makan "malam-malam"; menelpon sana-sini, maupun berurusan dengan kegiatan percetakan dan penjilidan.  Terbitnya "109 Inovasi Indonesia-2017" terasa sebagai penawar lelah dan stress selama menantikan kelahirannya.  
 
Salam Inovasi !

"109 Inovasi Indonesia" Segera Hadir

Setelah mengalami keterlaambatan beberapa saat, persiapan penerbitan "109 Inovasi Indonesia - 2017" akhirnya tuntas.  Kemarin, 21 Desember 2017, seluruh konten buku telah berhasil "naik cetak", dan diharapkan pada penutup tahun 2017 minggu depan, pengiriman buku "109 Inovasi Indonesia - 2017" dapat dimulai, dan akan dilanjutkan pengirimannya ke seluruh Indonesia pada awal tahun 2018. 

"109 Inovasi Indonesia - 2017" merupakan edisi ke sepuluh penerbitan serial "100+ Inovasi Indonesia", yang dipersiapkan dengan "agak" istimewa, sebagai peringatan satu dasawarsa terbitan BIC. Untuk itu, selain menyajikan 109 karya inovasi terpilih dari seluruh Indonesia, terbitan kali ini memuat berbagai pemikiran dan gagasan ke depan, bagi prakarsa dan upaya penguatan inovasi di Indonesia.  Termasuk di antaranya, disajikan hasil awal "Survei Suara Inovator Indonesia tahap pertama (SSII-I), serta pemikiran Prof Rene T Domingo (AIM) tentang "definisi" inovasi di masa depan.  Selain itu, terbitan kali ini juga memuat pemikiran Pimpinan LIPI tentang strategi hilirisasi di Indonesia, dan suntingan sebuah postulat terobosan dari Dr. Florin Paun, yang menyarankan dilakukannya "hibridisasi" TRL (Technology Readiness Level) dan DRL (Demand Readiness Level) demi efektivitas dalam hilirisasi Inovasi.     
 
BIC menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim penerbitan "109 Inovasi Indonesia - 2017", yang telah bekerja keras untuk memenuhi target jadwal penerbitan. Dan tidak lupa disampaikan penghargaan dan terimakasih yang luar-biasa kepada segenap pendukung dan sponsor penerbitan "109 Inovasi Indonesia - 2017", yang telah membuat terbitan ini terlaksana.        
 
Salam inovasi !

Melepas Masa Lajang

Pernikahan merupakan ibadah bagi seorang muslim untuk dapat menyempurnakan iman dan agamanya. Dengan menikah, seseorang telah memikul amanahnya yang paling besar dalam dirinya terhadap keluarga yang akan ia bimbing menuju jalan kebenaran. 

Pernikahan memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu membentuk suatu keluarga yang bahagia, kekal abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 pasal 1 bahwa: "Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang wanita dengan seorang pria sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."

Suasana bahagia menyelimuti warga BIC saat menghadiri resepsi pernikahan Luthfi Idris, saat salah seorang lagi anggota BIC "berhasil" mengakhiri masa lajangnya pada Ahad (10/12/2017), di Gedung Manggala Wanabhakti di kawasan Senayan Jakarta. 

Luthfi yang juga seorang CIM Returnee, memutuskan berumah tangga dengan sosok perempuan bernama Puti Adani, perempuan yang ia kenal sejak 2 tahun silam. Pernikahan yang dilangsungkan dengan adat minang ini berlangsung cukup meriah, karena dihadiri ratusan tamu undangan. Bapak Kristanto Santosa (Direktur BIC) serta staf rekan kerja BIC juga turut hadir mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. "Semoga Luthfi dan Istri menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah" ujar rekan Luthfi, Riski (33), usai resepsi pernikahan. 


 Selamat Berbahagia, Luthfi Idris! (YZH-131217)

Workshop : “How to Accelerate Public Private Partnership in Research” FK UI

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil riset di bidang kedokteran, dan membangun jejaring kerjasama ABGC (Academic, Business, Government, Community), Indonesia Innovation for Health (INNOVATE) yang merupakan unit Technology Transfer Office (TTO) yang berada di bawah naungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyelenggarakan Workshop bertajuk “How to Accelerate Public Private Partnership in Research”. Pihak-pihak yang mewakili ABGC, diundang untuk berbagi pengalaman dari sudut pandang masing-masing, yang berkaitan dengan pengembangan dan kolaborasi penelitian di bidang kedokteran.

Acara yang diselenggarakan di gedung IMERI (Indonesian Medical Education and Research Institute), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta pada tanggal 14 November 2017 ini,  diikuti oleh pihak-pihak yang mewakili ABGC; Bambang Setiadi (Dewan Riset Nasional), Boen Setiawan (PT Kalbe Farma), Budi Wiweko (Manajer Riset FK UI), dan Erna Setiawati (GP Jamu). Kristanto Santosa (BIC) sebagai praktisi intermediasi ABGC, diundang untuk berbagi cerita tentang “Force Field Analysis Kolaborasi Bisnis - Litbang di Indonesia

Dalam paparannya, Kristanto menyampaikan tantangan yang umum dihadapi, diantaranya adalah iklim regulasi yang kurang mendukung terjalinnya kerjasama antara Litbang dengan Swasta. Kristanto menyampaikan “Kadang kita harus memulai terlebih dulu, untuk merubah regulasi. Bukan menunggu regulasi, baru kita memulai. Untuk memulai kerjasama tidak harus selalu dengan triple helix, kita dapat memulai dengan double helix (Litbang dan Swasta)”.

Alhasil, kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kerjasama ABGC dan mendorong komersialisasi produk penelitian di bidang kedokteran, yang pada akhirnya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Best Practices of Establishment and Operation of Food Innovation Center in ASEAN

Sebagai bagian dari program ASEAN Summit, yang bersamaan dengan peringatan 50 tahun berdirinya perhimpunan negara-negara ASEAN, Kementerian Sains dan Teknologi Filipina melalui unitnya Industrial Technology Development Institute (ITDI) menjadi  tuan rumah pada acara workshop tentang Food Innovation Center di ASEAN.  Untuk itu, berbagai prakarsa yang berhubungan dengan pendirian, pengembangan, serta aktivitas Food Innovation Center (FIC) di ASEAN diundang, untuk berbagi cerita dan pengalaman. 

Acara yang diselenggarakan di Manila, Filipina pada tanggal 16 – 17 Oktober 2017 ini diikuti oleh seluruh anggota ASEAN Sub-Committee on Food Science and Technology (ASCFST). Delegasi Indonesia dalam kesempatan diwakili oleh Indonesian Food Innovation Center (IFIC), dan team dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebagai salah satu anggota pendiri IFIC, Kristanto Santosa, direktur Eksekutif BIC, telah ditugaskan menjadi salah satu pembicara kunci dari Indonesia

Dalam  paparannya, Kristanto menyampaikan berbagai potensi dan “best practices” dari Indonesia dalam inovasi pangan dan pertanian, dan mengajak agar seluruh  negara-negara ASEAN bekerjasama untuk membangun ASEAN sebagai pusat kuliner dan pangan kelas dunia.

                                                  

Salam inovasi !

 

 

Hubungi Kami

PQM Building, Ground Floor,
Cempaka Putih Tengah 17C no. 7a, Jakarta 10510, Indonesia.

 
  • Telepon:
    (+62) 21 4288 5430
  • (+62) 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • (+62) 8118 242 462 (BIC-INA)
  • Fax:
    (0) 21 2147 2655

Senin - Jum'at: pk. 9.00 - 16.30

Kami ada di Jejaring Sosial. Ikuti kami & terus berhubungan.
Anda berada di: Utama BIC Berita Inovasi