Inovasi Indonesia

Membangun Indonesia melalui Inovasi bersama BIC

Proteksi IPR (Intellectual Property Rights), Menguntungkankah?

IPR singkatan dari Intellectual Property Rights, dikenal juga di Indonesia sebagai HKI (dulu HAKI) singkatan dari Hak (atas) Kekayaan Intelektual. IPR secara awam bisa diartikan Hak Kepemilikan atas sebuah Karya Intelektual. Karena berbicara Hak, maka lumrah bila HKI diatur oleh organisasi di bawah Departemen Kehakiman.

IPR memiliki beberapa kategori, antara lain, Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.(Pasal 1 ayat 1).

Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi:

Paten
Merek
Desain Industri
Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
Rahasia Dagang
Varietas Tanaman
(sumber: http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi?.ucid=376&ctid=1&id=137&type=0)

Melihat pembedaan kedua kategori di atas, bisa dimengerti bahwa HKI memiliki nilai ekonomis, selain fungsi HKI yang paling utama yaitu untuk melindungi. Namun perlu dicatat, bahwa nilai ekonomis ini baru bisa dinikmati hanya bila HKI tersebut diaplikasikan (digunakan), dan tidak melulu dilindungi, alias tidak ada yang boleh tahu 'RAHASIA' Hak Intelektual Saya.

Saking pintarnya orang pintar di Indonesia melindungi HKI yang dimilikinya, sehingga tidak ada yang tahu, apa saja Kepemilikan karya Intelektual yang bisa 'dieksploitasi'. Saya gunakan kata eksploitasi, walaupun berkonotasi negatif, karena memang seperti ilmu pada umumnya, karya intelektual itu harus dieksploitasi untuk memberikan hasil bagi penemu/pengembangnya. Eksploitasi bisa dilakukan oleh orang lain (bukan penemu/pengembangnya) dan HKI memastikan bahwa pemilik karya intelektual bisa mengklaim 'hak'-nya.

Banyak persepsi keliru seputar HKI di Indonesia. Selama ini yang saya dengar mengenai HKI adalah HKI proses nya lama dan berbelit, HKI mahal, HKI katanya melindungi tapi perlindungannya kok lemah? Saya tidak pernah melakukan pendaftaran HKI sebelumnya, dan saya sangat awam soal HKI (maklum saya bukan konsultan HKI atau berlatar belakang hukum). Oleh karenanya ketika saya diminta untuk menghadiri kegiatan yang dilakukan oleh Dir.Jen HKI mengenai IPR Valuation and Technology Transfer, saya gunakan kesempatan itu untuk bertanya langsung ke rekan-rekan yang mengelola IPR di Indonesia.

Persepsi 1. Bahwa HKI prosesnya lama dan berbelit (terutama Paten). Betul! Proses pendaftaran Paten memang lama. Mau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproses pendaftaran paten? Menurut Hukum, minimal (atau maksimal yah?) waktunya adalah 5 tahun atau 60 bulan. Tanya kenapa...

Enam puluh bulan proses pendaftaran Paten dibagi menjadi beberapa proses. Ketika kita mendaftarkan Paten, kita akan menerimakan nomor pendaftaran Paten. Simpan nomor ini, karena nomor ini sangat penting. Pendaftaran Paten sebaiknya langsung diantarkan ke kantor Paten. Dalam batas waktu 3 bulan, pendaftaran yang kita lakukan akan diperiksa kelengkapannya dan kita akan diberikan kabar melalui surat-menyurat. (tanya kenapa...).

Bila pendaftaran telah lengkap, 18 bulan berikutnya kita diberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan / amandemen atas pendaftaran paten awal kita. Perbaikan / amandemen tentu ada batasannya. Bila perbaikan / amandemen sangat berbeda dengan pendaftaran paten awal kita, ada baiknya kita mendaftarkan ulang, seperti sebuah paten baru.

Biaya pendaftaran? 575 ribu rupiah saja. Amandemen / perbaikan sepertinya tidak dikenakan biaya.

Setelah batas waktu 18 bulan, pendaftaran Paten akan dipublikasikan oleh DirJen HKI. Publikasi dilakukan selama batas waktu 6 bulan. Publikasi seperti layaknya sebuah Undang-Undang, dipublikasikan di lingkungan DirJen HKI, umum dianggap tahu dan yang berkepentingan bisa melihat publikasi pendaftaran Paten di sana atau melalui sarana yang disediakan. Setelah masa publikasi sampai paten diluluskan, pendaftaran paten bisa disanggah oleh pihak lain bila ada.

Total waktu yang dibutuhkan sampai tahap ini adalah 18+6 bulan = 24 bulan (atau 2 tahun!) dan biayanya minimal 575 ribu rupiah saja.

Tahap berikutnya adalah pemeriksaan substantif atas pendaftaran paten. Pemeriksaan substantif dilakukan oleh pemeriksa paten, dan batas waktunya adalah 36 bulan (atau 3 tahun! - tanya kenapa...). Pemeriksaan substantif adalah proses yang sangat penting karena pemeriksa paten harus memeriksa berbagai kriteria pendaftaran sebelum bisa meluluskan sebuah pendaftaran paten. Untuk melanjutkan ke proses pemeriksaan substantif, dikenakan biaya 2 jt rupiah saja. Tidak ada jaminan bahwa pendaftaran paten pasti diluluskan.

Jadi untuk mendaftarkan paten waktu yang dibutuhkan adalah: 18 bulan awal untuk kesempatan amandemen/perbaikan, 6 bulan masa publikasi, 36 bulan untuk pemeriksaan substantif dan total biaya yang minimal dibutuhkan adalah 2.575.000 rupiah saja.

Apa yang terjadi setelah paten diluluskan? Pemilik paten diberikan kesempatan untuk memelihara pendaftaran Paten tersebut dengan membayarkan sejumlah uang setiap tahunnya.

Tahukah Anda bahwa biaya perpanjangan pendaftaran paten akan meningkat setiap tahunnya? Pertimbangannya adalah sejalan dengan waktu, pemilik paten telah menikmati hasilnya, memulai produksi dan penjualan atas karya intelektualnya, dan adalah wajar bila semakin 'matang' sebuah produk semakin besar nilai penjualan, dan semakin besar keuntungan yang diperoleh.

Tahukah Anda bahwa: Umur paten adalah maksimal 20 tahun dan dihitung dari tanggal pendaftaran? Betul! Dari tanggal pendaftaran, dan bukan tanggal paten diluluskan. Berarti selama 5 tahun awal proses pendaftaran sampai paten diluluskan, termasuk dalam biaya pemeliharaan ketika paten diluluskan! Biaya tersebut sepertinya tidak dimintakan bila paten tidak diluluskan.

Rincian biaya perpanjangan minimum pertahunnya untuk paten adalah sebagai berikut:
sumber: Buku Panduan HKI DirJen HKI (2009) yang bisa didownload dari: http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi?.ucid=376&ctid=94&id=3425&type=0

Tahun 1-3 : Rp 700.000 / tahun (total Rp. 2.100.000)
Tahun 4-5 : Rp 1.000.000 / tahun (total Rp. 2.000.000)
Tahun 6 : Rp. 1.500.000 / tahun (total Rp. 1.500.000)
Tahun 7-8 : Rp. 2.000.000 / tahun (total Rp. 4.000.000)
Tahun 9 : Rp. 2.500.000 / tahun (total Rp. 2.500.000)
Tahun 10 : Rp. 3.500.000 / tahun (total Rp. 3.500.000)
seterusnya sampati tahun 20 : Rp. 5.000.000 / tahun (total Rp. 50.000.000)

Bila paten diluluskan, biaya perpanjangan 5 tahun pertama adalah Rp. 4.100.000, ditambah biaya perpanjangan tahun berikutnya Rp. 1.500.000 Total Rp. 5.600.000. tanya kenapa...


Sekarang pertanyaan yang utama... KOK DAFTAR PATEN SAJA BIAYANYA BERJENJANG SEPERTI INI? Bayangkan bila Anda menemukan sesuatu yang Anda anggap penting dan mempunyai nilai. Anda segera mendaftarkan hasil karya intelektual anda. Biaya yang dikeluarkan? Minimal 575 ribu rupiah saja. Anda punya waktu 2 tahun untuk memikirkan bagaimana caranya mengeksploitasi Karya Intelektual Anda. Bila setelah 2 tahun tidak ada perkembangan, dan tidak ada nilai ekonomis nya, Anda bisa menghentikan proses pendaftaran patennya.

Bila setelah 2 tahun ternyata karya intelektual Anda berkembang dan sangat menjanjikan, Anda bisa melanjutkan ke proses pemeriksaan substantif, dan membayar biaya permohonan minimal 2 juta rupiah saja. Sementara itu syukur-syukur Anda telah mulai berjualan dan mengeruk keuntungan. Proses pemeriksaan substantif selama 36 bulan, juga bisa Anda gunakan untuk berjualan. Sampai tahun ke-5, atau lebih, Anda tidak harus membayarkan apa-apa. Ketika paten akan diluluskan, Anda diberikan kesempatan untuk meneruskan proses atau tidak. Bila tidak terlalu menguntungkan, yah dihentikan saja. Berapa banyak Anda rugi? Berapa banyak Anda untung?

Lalu pertanyaan berikutnya

KENAPA KITA HARUS MEMBAYAR BIAYA PEMELIHARAAN PATEN DARI TAHUN PERTAMA PENDAFTARAN? Karena proteksi paten berlaku sejak tanggal pendaftaran paten! Bukan sejak tanggal lulusnya paten.

Persepsi 2 – Paten saya baru didaftarkan, belum keluar, jadi masih RAHASIA dan belum boleh disebarkan / diproduksi. SALAH BESAR!!! MULAILAH SECARA GENCAR memikirkan cara komersialisasi karya intelektual Anda. Anda takut karya Anda dicontek? Biarkan saja! Tunggu ketika paten Anda diluluskan, Anda bisa meng-klaim hak Anda melalui proses hukum.

TUNGGU! Apa saya harus menunggu 5 tahun untuk itu? TIDAK!

Anda bisa melakukan permohonan percepatan proses pendaftaran dan pemeriksaan substantif, tentu dengan sedikit biaya. Pertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan, untuk percepatan, biaya persidangan, dan nilai klaim yang akan Anda lakukan. Konsultasi dengan pihak yang berwenang dan konsultan HKI bila perlu. Bila memang menguntungkan, PERCEPAT proses  hingga paten Anda diluluskan. Lalu klaim hak Anda. Kenapa harus takut karya intelektual Anda dicontek? Kenapa kita harus paranoid padahal HKI menawarkan perlindungan melalui hukum?

Persepsi 3 – Paten baru dilakukan kalau sudah tahu apa yang akan saya perbuat dengan karya intelektual saya. SALAH BESAR!!! Lakukan proteksi melalui HKI secepat mungkin, atau ketika Anda siap untuk mempublikasikan, bahkan bila Anda belum siap untuk berproduksi. Ingat, Anda punya waktu sampai dengan 5-6 tahun untuk proses pendaftarannya. Gunakan waktu itu untuk mengembangkan produk Anda dan cara-cara komersialisasinya.

Persepsi 4 – Saya malu kalau tidak bisa menjawab pertanyaan staf Sentra HKI, 'PENEMUAN ANDA GUNANYA UNTUK APA?'- Hei!!! Karena saya belum tahu gunanya untuk apa, makanya saya proteksi dulu. Ketika saya sudah tahu gunanya untuk apa, saya sudah aman. Kalau nanti ternyata penemuan saya tidak ada gunanya, distop saja proses pendaftarannya setelah 2 tahun atau 5 tahun. Setidaknya saya mendapatkan nilai kum, dan mendapatkan pengakuan atas hasil karya saya. Apa ruginya membayar Rp. 2.575.000 untuk 5 tahun?

Masih ada beberapa persepsi lain yang ingin saya utarakan, namun kalau saya utarakan sekarang akan membuat tulisan ini menjadi sangat panjang. Namun mudah-mudahan tulisan saya kali ini meluruskan beberapa hal mengenai HKI dan menjadikan HKI sebagai Hak yang 'meng-KAYA-kan' dan bukan Hak untuk 'me-RAHASIA-kan'. Eksploitasi itu baik! Selama pemilik karya intelektual bisa menikmatinya.

So... Tunggu apa lagi??? Daftarkan temuan Anda sekarang juga ke sentra HKI di institusi Anda!

Referensi utama:
Website DirJen HKI : www.dgip.go.id
Buku Panduan HKI (2009)
Diskusi dengan rekan-rekan DirJen HKI di kegiatan Seminar on IP Valuation and Technology Transfer, Jakarta, 8-9 November 2010

* Beberapa pernyataan dalam tulisan ini bersifat pribadi dan mungkin kurang tepat. Bila memang terdapat kesalahan yang merugikan, mohon kiranya untuk menghubungi BIC di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. dan meminta koreksi atas kesalahan tersebut.

 

 

 

Hubungi Kami

PQM Building, Ground Floor,
Cempaka Putih Tengah 17C no. 7a, Jakarta 10510, Indonesia.

 
  • Telepon:
    (+62) 21 4288 5430
  • (+62) 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • (+62) 8118 242 462 (BIC-INA)
  • Fax:
    (0) 21 2147 2655

Senin - Jum'at: pk. 9.00 - 16.30

Kami ada di Jejaring Sosial. Ikuti kami & terus berhubungan.
Anda berada di: Utama BIC Artikel Inovasi Proteksi IPR (Intellectual Property Rights), Menguntungkankah?