Inovasi Indonesia

Membangun Indonesia melalui Inovasi bersama BIC

Nasi Ungu Yang Kaya Senyawa Antioksidan

Tahukah Anda bahwa nasi putih yang sehari-hari kita makan sebenarnya minim kandungan nutrisi-selain karbohidrat? Sudah lama sejak ditemukannya nasi merah yang rendah kandungan indeks glikemiknya, para penderita diabetes beralih dari nasi putih menuju nasi yang lebih menyehatkan. Baru baru ini, sekelompok ilmuwan dari Negeri Tirai Bambu berhasil mengembangkan “nasi ungu” yang tidak hanya bergizi namun juga mengandung banyak antioksidan yang dapat menurunkan resiko penyakit kanker dan kardiovaskular.

Melalui pendekatan rekayasa genetik, para peneliti dari South China Agricultural University berhasil mengembangkan “nasi ungu” yang mengandung banyak senyawa antosianin yang terkenal bersifat antioksidan, dapat menurunkan resiko kanker, penyakit jantung, bahkan diabetes. Tidak hanya itu, senyawa ini juga memberikan karakteristik unik dari nasi yang mirip dengan buah anggur dan bluberi, sehingga memberikan kesan “eye-catching” bagi calon konsumen.

Menurut ketua tim Yao-Guang Liu, percobaan untuk meningkatkan kandungan tertentu dalam nasi ternyata bukan yang pertama, beta-karoten dan folat adalah contoh kandungan bernilai gizi tinggi yang telah diuji coba sebelum antosianin. “Pigmen ungu” sebenarnya banyak terkandung dalam varietas nasi hitam dan merah, namun jumlahnya menjadi minim ketika sekam dan dedaknya dibuang dan hanya menyisakan bagian endospermanya.  

Pendekatan rekayasa genetik sudah dilakukan namun karena jalur biosintesis-nya antosianin yang sangat kompleks, sangat sulit untuk men-transfer banyak gen yang mengekspresikan antosianin ke dalam tumbuhan secara efisien. Untuk memecahkan masalah ini, mereka melakukan “scanning” gen mana yang berkaitan dengan produksi antosianin dari berbagai varietas beras.

Contohnya ialah beras varietas Japonica sp. dan indica sp. yang tidak memproduksi antosianin, tapi para ilmuwan tersebut akhirnya mampu mengisolasi gen yang cacat dan menggantinya dengan gen produktif. Mereka membuat sistem penyusunan transgenetik yang dapat mengekspresikan delapan gen antosianin yang berbeda pada gandum, sehingga beras yang dihasilkan memiliki kandungan antosianin yang tinggi dengan warna yang cerah.

Liu lebih lanjut mengatakan bahwa mereka sukses mengembangkan sistem penyusunan transgenetik yang sangat efisien dan mudah digunakan yang disebut dengan “TransGene Stacking II” yang dapat menyusun sejumlah besar gen dalam vektor tunggal untuk merubah sifat suatu tanamanan. Hal ini pun ditengarai menurutnya merupakan percobaan yang pertama dalam merekayasa suatu sistem metabolik yang rumit pada tanaman.

Selanjutnya, mereka akan melakukan investigasi seberapa aman “nasi ungu” ini dapat dikonsumsi dan apakah teknik rekayasa genetik ini dapat diaplikasikan untuk jenis sereal yang lain atau tidak. Saat ini, para peneliti tersebut mengklaim teknik ini dapat digunakan untuk meningkatkan kadar nutrien dan senyawaan lain dalam berbagai tanaman. (YZH)

-- 

(sumber : Science Daily)

Perangkat Diabetes Yang Lebih Real-Time

Perangkat biosensor yang dapat mengukur kadar glukosa secara real-time telah lama dikembangkan sebagai alat pemantau penyakit diabetes tipe-2. Namun, alat ini terkendala penggunaannya yang bersifat single-use sehingga harus diganti setiap hari. Para Ilmuwan dari University of Texas, Dallas yang dipimpin oleh Prof. Shalini Prasad mengembangkan alat baru yang lebih efisien dalam memantau penyakit diabetes.

Alat ini berupa gelang yang digunakan di pergelangan tangan, yang memanfaatkan material cairan ionik suhu rendah (room temperature ionic liquid) untuk menganalisis sejumlah kecil keringat dari kulit dan disaat yang bersamaan mengukur konsentrasi tiga senyawa diabetik yang saling berhubungan – kortisol, glukosa, dan interleukin-6.

Professor Pasad menjelaskan, jika seseorang mengalami stres kronis, kadar kortisol dalam tubuh akan meningkat, dan resistensi insulin yang dihasilkan secara bertahap akan mendorong kadar glukosa dalam tubuh melebihi batas normal. “Pada titik tersebut, seseorang akan mengalami tahap pra-diabetes, yang dapat berkembang menjadi diabetes tipe-2. Jika itu terjadi, tubuh Anda berada dalam keadaan radang, dan interleukin sebagai penanda radang ini akan menunjukkan bahwa organ tubuh Anda mulai terpengaruh” ujar Pasad lebih lanjut.

Di akhir, para ilmuwan memprediksi alat ini dapat berisi transreceiver kecil yang dapat mentransmisi data ke aplikasi smartphone dengan hanya menekan sebuah tombol sehingga perkembangan penyakit dapat dipantau setiap saat.

Mereka merencanakan alat ini dapat diproduksi secara massal dengan harga murah, sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat baik dari negara berkembang maupun negara maju. Saat ini, pihak universitas sedang mencari partner untuk komersialisasi produk, dan berharap bisa segera masuk ke pasaran dalam waktu dekat. (YZH)

--

(sumber : New Atlas)

Mengubah Emisi Karbon Dioksida Menjadi Bahan Bakar dengan "Fotosintesis Buatan"

Ide mengenai fotosintesis buatan sebagai teknologi energi terbarukan menarik banyak ilmuwan belakangan ini. Jika selama ini kita mengenal daun yang secara alami dapat mengubah gas rumah kaca atau CO2 menjadi karbohidrat dengan bantuan sinar matahari, maka para ilmuwan selama beberapa dekade ke belakang telah mencoba meniru proses fotosintesis tersebut dengan mengembangkan teknologi “artificial photosyntesis”, namun untuk menghasilkan bahan bakar cair. Temuan ini berpotensi memecahkan masalah utama penggunaan energi matahari dan energi yang tidak tersedia sepanjang waktu.

Selama beberapa tahun, banyak ilmuwan telah berkontribusi bagi pengembangan teknologi fotosintesis buatan ini – dengan membuat katalis yang diaktivasi oleh cahaya matahari yang dapat memecah molekul air menjadi gas oksigen dan hidrogen.  Senyawa hidrogen inilah yang digunakan untuk mereduksi gas karbon dioksida (CO2) menjadi senyawan hidrokarbon. Seperti daun aslinya, teknologi ini hanya menggunakan CO2, air, dan cahaya matahari untuk menghasilkan bahan bakar.

Suatu grup peneliti yang dipimpin oleh Daniel G. Nocera dan Pamela Silver  dari Harvard University telah melakukan penelitian yang menggabungkan “pemecahan air” dan “konversi gas karbon dioksida” dalam satu sistem dengan efisiensi yang tinggi pada Juni 2016. Mereka melakukan suatu pendekatan untuk membuat bahan bakar cair (seperti alkohol) yang hasilnya jauh melampaui konversi yang dapat dilakukan daun di alam untuk mengubah CO2 menjadi karbohidrat.  Jika satu tumbuhan menggunakan hanya 1 persen dari energi matahari untuk membuat glukosa, sedangkan sistem buatan ini mampu mencapai efisiensi kurang lebih 10 persen dalam merubah CO2 menjadi liquid fuel, atau setara dengan menghisap 180 gram gas CO2 dari udara per kwh listrik yang dihasilkan.

Nocera dan tim menggabungkan material anorganik yang biokompatibel dan ramah lingkungan sebagai katalis utama pemecahan air (dengan bantuan sinar matahari) dengan mikroba yang direkayasa secara khusus untuk menghasilkan bahan bakar  dalam satu sistem. Tercatat, bakteri-bakteri yang direkayasa secara metabolik ini menghasilkan berbagai variasi bahan bakar dan produk kimia bahkan dalam konsentrasi CO2 yang cukup kecil. Teknologi ini siap untuk di produksi dalam skala yang lebih besar mengingat katalis yang digunakan berasal dari logam yang murah dan mudah didapatkan. Namun para peneliti ini masih perlu untuk meningkatkan efisiensi produksi bahan bakar secara signifikan. Nocera mengatakan bahwa timnya sedang  merancang prototype-nya  dan berdiskusi dengan beberapa perusahaan sebagai calon investor.  

Penemuan ini dapat dikatakan terobosan yang revolusioner, pasalnya dapat memungkinkan ilmuwan di masa yang akan datang membuat teknologi yang bisa merubah emisi kendaraan CO2 menjadi bahan bakar kembali, bukannya menambah gas rumahkaca di atmosfer. (YZH)

--

(sumber : Scientific American)

Ciptakan Kulkas Tanpa Listrik, Pelajar SMA Musi Banyuasin Berjaya di AS

MELALUI karya ilmiahnya Muhtaza dan Anjani, Siswi SMA Negeri 1 Sekayu Sumatera Selatan, berhasil meraih 2 Award dalam Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 yang diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat, 11-16 Mei 2014.

Karya ilmiah berjudul Green Refrigerant Box meraih the Development Focus Award senilai USD10.000 dari the U.S. Agency for International Development (USAID). Selain itu mereka juga meraih Penghargaan Ketiga senilai USD1.000 di kategori Engineering: Materials & Bioengineering.  Keberhasilan meraih 2 penghargaan tersebut berdasarkan penilaian atas dasar karya ilmiah mereka yang membuat Green Refrigerant Box (kulkas tanpa freon dan listrik) dengan fokus pada penggunaan kayu gelam sebagai solusi alternatif untuk pendingin buah-buahan dan sayur-sayuran.

Baca selengkapnya disini: www.KabariNews.com/?66433

De-Bottle Necking Inovasi Indonesia

 

Oleh : Kristanto Santosa (Direktur Eksekutif BIC)

Note :Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi "Solusimu, Ayo Berinovasi!"

 

Sinopsis

Kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) sains, teknologi dan inovasi adalah pendorong terpenting pertumbuhan ekonomi di era global dewasa ini. R&D merupakan pendorong penciptaan nilai tambah, pendorong daya saing, kemampuan ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan pada gilirannya, menciptakan ekonomi  yang sehat untuk mendukung kemajuan negara / bangsa.

Sekalipun telah mencapai pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) yang cukup sehat di kisaran 6  persen setahun, ekonomi Indonesia menunjukkan  tanda-tanda “kelelahan”, sebagaimana ternyata pada depresiasi rupiah dan defisit neraca perdagangan Indonesia akhir-akhir ini. Berbagai upaya “turnaround” dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis penciptaan nilai tambah juga terkendala.  Misalnya, kebijakan mendorong tingkat kandungan dalam negeri (TKDN)  dan pelarangan ekspor bahan mentah, seringkali tidak efektif, ditunda  atau bahkan dibatalkan.

Alasan yang mengemuka adalah minimnya pembiayaan R&D Litbang Pemerintah (0.066 % GDP), disamping partisipasi swasta dalam R&D yang diperkirakan sangat kecil. Dengan merujuk berbagai laporan riset (a.l. Global Competitiveness Report), ketidak-siapan Indonesia berinovasi, kemandirian dalam pengembangan teknologi, atau keengganan pelaku bisnis swasta berinvestasi dalam R&D juga dijadikan alasan yang lain.

Usulan solusi ini menyarankanpemecahan akar permasalahan di atas,  melalui “de-bottlenecking” sistematik pada hambatan-hambatan struktural  yang menyebabkan “lingkaran setan”: efektivitas kegiatan R&D Litbang Pemerintah yang rendah, sehingga pelaku bisnis swasta enggan melakukan investasi dalam inovasi karena kurang didukung,  atau sebaliknya.  Sebenarnya stimuli melalui berbagai program dan kebijakan pemerintah telah dilakukan, tetapi karena pelaksanaannya tidak terintegrasi, hasilnyapun jauh dari menggembirakan. Usulan ini diharapkan menjadi  solusi alternatif yang sustainable; dan jika dengan serius diterapkan, bisa menjadi harapan baru akan masa depan Indonesia yang maju dan sejahtera.

 

Selengkapnya dapat dilihat dalam paparan terlampir : 

Call for Papers "Innovation for Developing Countries" TH 2012 (English)

Triple Helix ke-10

Welcome to the TH 2012

The Triple Helix 10th International Conference 2012 (TH 2012) is a prominent international convention that will talk innovation in developing countries. The event will be held on August 08 - 10 2012.
TH 2012 is the tenth in a series of international conferences that was started sixteen years ago by the Triple Helix Association.
With host of the prestigious School of Business and Management, Instut Teknologi Bandung (SBM - ITB), the TH 2012 calls to advancing previous success of THA conferences that previously held in Silicon Valley (San Francisco), Madrid, Glasglow, Singapore, Turin, Copenhagen/Lund, Rio de Janeiro, New York, and Amsterdam.
The venue of TH 2012 is the historic and newly refurbished "Grand Royal Panghegar Hotel", Bandung, West Java.

Selengkapnya...

Pelatihan Intermediator Teknologi

RISTEKBMBF

Kementerian Riset dan Teknologi, Republik Indonesia
bekerjasama dengan
Kementerian Federal Bidang Pendidikan dan Penelitian, Jerman

menyelenggarakan

Pengembangan industri berbasis inovasi adalah arahan pembangunan ekonomi Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2009-2014).  Sejalan dengan tuntutan arus globalisasi, daya saing ekonomi Indonesia perlu ditingkatkan dan diperkuat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Penerapan iptek ke industri memerlukan penanganan khusus, sehingga diperlukan pengembangan peran intermediasi teknologi. Intermediasi teknologi adalah kegiatan untuk membantu proses alih teknologi yang berperan penting untuk menumbuhkan inovasi, khususnya di sektor industri/UKM.  Profesional yang melaksanakan fungsi intermediasi disebut intermediator.

Selengkapnya...

Hubungi Kami

PQM Building, Ground Floor,
Cempaka Putih Tengah 17C no. 7a, Jakarta 10510, Indonesia.

 
  • Telepon:
    (+62) 21 4288 5430
  • (+62) 8118 242 558 (BIC-JKT)
  • (+62) 8118 242 462 (BIC-INA)
  • Fax:
    (0) 21 2147 2655

Senin - Jum'at: pk. 9.00 - 16.30

Kami ada di Jejaring Sosial. Ikuti kami & terus berhubungan.
Anda berada di: Utama BIC Artikel Inovasi